Laporan Input Literasi Siswa Selasa 2 November 2021
| Nama | Kelas | No. Absen | Ringkasan Cerita Bahan Bacaan Fiksi/ Non Fiksi |
| Anabel Izzati Mumtaz | 7A | 2 | Rose yang awalnya anak mafia yang terkenal, seketika berubah menjadi kutu buku untuk menutupi identitasnya. Karena penampilannya yang culun ia selalu dibully oleh teman”nya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menunjukkan penampilannya yang asli, dan tentu saja ia menyuruh anggota ayahnya untuk membalas perbuatan teman”nya yang selalu membullynya dulu. |
| Arumi Astri | 7A | 3 | Si kancil sedang berjalan menuju hutan untuk kembali setelah mencari makan di ladang pak tani. Di tengah jalan ia harus menyeberang sungai yang dihuni banyak sekali buaya yang sangat lapar, kawanan buaya sangat senang melihat kancil, tapi si kancil mensyaratkan buaya harus dihitung terlebih dahulu. Buaya menyetujui dan sikancil memulai menghitung jumlah buaya, akhirnya tipu daya si kancil berhasil, buaya tercengang karena si kancil yang cerdik berhasil memperdaya buaya. Si kancil langsung pergi setelah menghitung buaya terakhir di ujung sungai, si kancil pun langsung berlari ke dalam hutan dan bebas dari cengkraman buaya lapar. |
| Khalisa Naira Putri | 7A | 9 | Judul : Debu
Ringkasan : Ada 3 oraang yang memutuskan untuk berwisata ke Bandung tetapi mereka mengalami kejadian yang aneh saat di kereta yaitu ada asap putih yang menyelimuti jendela sehingga jendela kereta dipenuhi embun yang dingin. Salah satu temannya ada yang awalnya tangannya basah lalu semakin dingin dan nyaris seperti membeku, salah satu temannya menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat |
| Lastya Wiskara | 7A | 10 | bermain ke bandung |
| Misya Shafa Raniyah | 7A | 12 | dulu Ratih saat usianya seperti Laura juga begitu Bu. Hatihati Bu, anak-anak sekarang sangat pintar dan penuh tipu daya. Semua anak-anak bilang begitu kepada orangtuanya, katanya tidak mau praktik shalat karena Kiai meraba-raba dada dan pinggul mereka saat membetulkan ruku dan sujud. Tidak mungkin juga Kiai bersikap kurang ajar begitu ya Bu, wong Kiai ilmu agamanya tinggi. anak zaman sekarang memang pintar sekali mencari alasan. Mereka kerap kali berbohong hanya karena mereka malas mengaji, Bu.” tambah tetangganya yang lain. |
| Naila khansa aruni | 7A | 18 | Pada suatu hari ada sekelompok remaja melakukan perjalanan wisata ke Bandung, mereka pergi ke Bandung menggunakan kereta api. Selama perjalanan mereka sangat menikmati, sambil memakan bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih. Tiba-tiba kereta berhenti mendadak dan kami belum sempat memakan ayam tepung, kami sangat terkejut karena lampu kereta perlahan mati, asap putih menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Tashya Rizki Ramadhani | 7A | 24 | aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami.Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama.Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan.Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet.lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut.aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Aliya Putri Valleysha | 7B | 3 | Laura anak yang suka bolos mengaji, dulu dia adalah anak yang pintar dan baik suka menurut kepada orang tuanya, tapi tiba” dia menjadi nakal tidak menurut selalu bolos mengaji karena kelakuan nya anak” yang lain pun mengikutinya. |
| alleika kaleela ramadhianty | 7B | 4 | mau ke bandung berliburan bertiga pake kereta, nah pas dijalan tiba2 keretanya berenti terus ada asap dari belakang kaca2 juga udah ditutup embun kaya es. diakhir katanya semuanya jadi debu menghilang begitu aja kesisa mereka yang duduk ditengah gemete berpegangan tangan. |
| almira diandra yuzar | 7B | 5 | Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. |
| Ananda Dwivano Moeis | 7B | 6 | Debu: Cerita ini tentang seorang pria dan temannya yang akan melakukan perjalanan ke Bandung. Dan ketika mereka naik kereta, mereka merasakan sesuatu yang salah di bagian dalam kereta. |
| Audrey Nabella Asyari | 7B | 10 | Cerita tentang Laura yang bolos mengaji |
| Danisha Alzena Shakila | 7B | 11 | Tentang sekumpulan pria yang sedang berlibur ke pegunungan es. Disana mereka melihat ada gadis cantik, tetapi anehnya gadis cantik itu tidak mempunyai bayangan dan tidak ada telapak kakinya di es. Gadis itu terus berjalan dan menghiraukan sekumpulan pria tersebut. Seiring berjalannya waktu, langit pun menjadi gelap. Mereka akhirnya tersesat.Tiba-tiba ada seorang wanita duduk di belakang mereka dengan darah yang bercucuran. Wanita tersebut adalah wanita cantik yang berjalan sendirian tadi. |
| Gadi Raditya Widyandana | 7B | 13 | anak dari rusa ahirnya mati karena di terkam singa |
| Kanaya wibowo sutanto | 7B | 14 | Saya membaca buku berjudul map of the soul dan yg saya baca itu sangat seru kita bisa tau sejarah album map of the soul dan inti dari lagu lagu yg ada di dalam album tersebut |
| keisya fayola aurelia | 7B | 15 | moonlight |
| Le Schist Kenichi Abdurrachman | 7B | 17 | Wajar jika anak-anak kelakuannya iseng, namun tidak boleh berlebihan. |
| Mallika Anindya Mulyawan | 7B | 18 | Aku dan teman-teman pergi wisata ke Bandung dengan menaiki kereta, kami pergi dari Jakarta pukul 2.30 pagi. Tapi seluruh stasiun sepi. Tiba-tiba ada asap dan Ningsih berubah menjadi menyeramkan. |
| Marshano Aulia Darmawan | 7B | 19 | Tentang cerita anak yang bolos dan tidak ingin ketahuan |
| Muhammad Dimitri Imbarry | 7B | 20 | Musibah Pak Ola dan Istrinya |
| Naira Putri Alif | 7B | 21 | Debu Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi sampai di stasiun lebih cepat, hanya Ningsih yang telat karena memang rumahnya ada di tepi kota Jakarta. Saat Ningsih sudah sampai akhirnya kami pun masuk ke dalam kereta, ntah mengapa mulai dari stasiun hingga keretanya pun sangat sepi. Saat kami sedang makan makanan yang Ningsih bawa tiba² kereta berhenti dengan tiba-tiba membuat kami terbentur kursi didepan kami, kami bertiga berpegangan tangan reflek. Tiba-tiba tangan Ningsih terasa begitu dingin, dan saat aku lihat untuk memastikan yang kulihat bukanlah Ningsih. Tiba-tiba gerbong itu dipenuhi kabut dan setelah itu yang aku lihat hanyalah Rendi di sebelahku dan gerbong yang dipenuhi debu. |
| Razell Altaafa Shaquile | 7B | 23 | Stasiun kereta api sangat sepi tidak seperti biasanya |
| Salwa Deandra Maharani | 7B | 24 | Barbie sedang dalam perjalanan menuju Paris untuk membantu Millicent, bibi barbie. Rumah busana Millicent akan tutup selamanya karna Jacqueline perancang busana yang jahat, mencuri ide ide busana MIllicent. Alice asisten Millicent dan Barbie menemukan lemari rahasia, saat di buka, muncullah peri-peri bernama Glimmer, Shimmer, dam Shyne. Mereka membuat gaun Alice berkilau.Akhirnya mereka akan mengadakan pergelaran busana menggunakan peri-peri itu untuk mempercantik gaun buatan mereka, meski sebelum pergelaran busana dimulai, peri peri sempat di culik oleh Jacqueline, pergelaran busana tetap berjalan dengan lancar dan rumah busana Millicent sukses. |
| Sultan Fakhri Maulana Salam | 7B | 25 | Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. Ada-ada saja alasan ia absen mengaji |
| Tyara Myouri Siswantoro | 7B | 26 | Aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata ke Bandung, menggunakan kereta dengan jadwal pukul dua tiga puluh pagi. Saat ingin makan, kereta berhenti dengan kontan, lampu-lampu kereta mati dengan perlahan. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin. Asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Suara derap langkah terdengar begitu cepat begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu. |
| Akbar pandu alamsyah | 7BIL1 | 1 | Bacaan Debu= Pada suatu hari 3 pemuda ingin pergi kebndung menggunakan kereta mereka mengambil jam paling pagi dan setelah itu salah 1 dari mereka terlambat akhirnya mereka semua masuk saat jalan tiba tiba kereta mati dan temannya mennjadi kaku dan akhirnya saat temannya menengok ia menjadi debu |
| Anza Andita | 7BIL1 | 2 | Aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata ke Bandung setelah dibuka masa pembatasan sosial berskala besar. Aku dan temanku menaiki kereta untuk pergi, karena diantara kami bertiga tidak ada yang dapat membawa kendaraan. Kereta kami berangkat pagi-pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Stasiun yang biasanya ramai tetapi sekarang sepi, terasa lebih dingin dari biasanya. Ningsih datang dimenit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibandingkan dengan stasiun. Kami menikmati bekal yang sudah disiapkan oleh Ibunya Ningsih. Saat kami menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti sampai tubuh kami terantuk. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, kami sangat terkejut. Asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang sangat dingin, seperti es. Lengan Ningsih yang awalnya basah kini semakin dingin, seperti nyaris membeku. Mata Ningsih juga menghitam seperti terkena luka bakar. Kepalanya menengok dengan kaku, hingga terdengar seperti pecah. Aku memutuskan untuk melepaskan lengan tersebut tetapi tidak berhasil. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu terdengar suara derap langkah kaki berjalan cepat menuju kami. Sampai semuanya hilang seperti debu, hanya kami yang tersisa. |
| Armulia Widya Purnawati | 7BIL1 | 4 | kita harus terbuka pada orangtua agar tidak terjadi kesalah pahaman |
| Attaya Meyra Azzalia Latian | 7BIL1 | 5 | Tanah warisan leluhur. |
| Avara Ridha Callista | 7BIL1 | 6 | Tokoh utama, Ningsih, dan teman-temannya pergi ke Bandung menggunakan kereta. Ningsih panik dan membeku, sampai tulang di dalamnya terdengar patah. Satu per satu, semuanya hilang seperti debu. Hanya tokoh utama dan temannya yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| azzahra surya putri | 7BIL1 | 7 | tentang keluarga yg ada di kereta dan tbtb semua menghilang kayak debu |
| Camelia Rahmaputri | 7BIL1 | 8 | Laura yg sering bolos mengaji |
| Fabian Azfar Rayshad | 7BIL1 | 11 | Keretanya ghaib dan menjadi debu lalu mereka sendirian di tengah rel kereta |
| Keira dayana | 7BIL1 | 15 | Kejadian horror di kereta |
| Keira Fairuz Zakia | 7BIL1 | 16 | Ketiga teman mau pergi ke Bandung lewat kereta tetapi ada sesuatu yang terjadi dan keretanya menjadi debu. |
| Mikail Geral Wijaya | 7BIL1 | 19 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar.Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di |
| Saviya Naura Almakira | 7BIL1 | 22 | Laura anak yang bandel dan sering bolos mengaji sampai orang tua nya kewalahan untuk merayu Laura agar pergi mengaji. |
| Tirza Attaya Subhan | 7BIL1 | 24 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Andrew Riese Untung | 7BIL2 | 1 | Cerita tentang seseorang dan temannya yang berwisata ke bandung setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, mereka memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Chaska Rashadel Gumelar | 7BIL2 | 2 | Cerita ini berjudul “Debu”. Cerita ini menceritakan seseorang dengan teman-temannya Rendi dan Ningsih yang ingin berwisata ke Bandung. Mereka kesana melalui kereta, tetapi saat dalam perjalanan hal-hal aneh mulai terjadi. Cerita ini termasuk cerita menegangkan |
| Eijaz Abhinav Ginanjar | 7BIL2 | 4 | “Aku”, Rendi, dan Ningsih pergi ke stasiun kereta di pagi hari, mereka akan pergi ke bandung. Dalam perjalanan ke bandung saat mereka sedang memakan bekal, tiba-tiba kereta berhenti dan lampu kereta mati, Ningsih kemudian berubah penampilan, menjadi seseorang yang seperti terbakar. Kemudian kereta menghilang seperti debu, menyisakan “Aku” dan Rendi. |
| Gavin Gunawan | 7BIL2 | 5 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Jasmine Alisha Zachry | 7BIL2 | 7 | Aku dan temanku berencana pergi ke bandung untuk berwisata setelah dibukanya PSBB. Kami pergi menaiki kereta karena tidak seorang pun dari kami dapat mengendarai kendaraan. Kami mendapat jadwal untuk berangkat pada pukul dua tiga puluh pagi. Ningsih baru sampai pada menit-menit terakhir keberangkatan. Baru ingin menyuap sepotong ayam, kereta berhenti dengan tiba-tiba. Tubuh kami teruntuk pada sandaran kursi, lampu-lampu kereta tiba-tiba mati. Terdengar derap kaki dengan cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut tebal dan udara yang dingin. Hingga semuanya menjadi debu dan menyisakan kami yang berdiri ditengah rel |
| Keandra Vireo Wigoro | 7BIL2 | 8 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan,“Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Keisha Putri Razak | 7BIL2 | 10 | Pada saat PPKM ada sekumpulan anak bernama mereka ingin berwisata ke Bandung menggunakan kereta namun ditengah perjalanan tiba-tiba kereta berhenti dan lampunya padam. Mereka ketakutan, badang Ningsih basah dan dingin. Saat itu ia menengok ke arah samping dan melihat keadaan kacau. Tiba-tiba ada kabut dan udara dingin seketika semua berubah menjadi debu hanya tersisa mereka saja. |
| Lakeysha Aurelia | 7BIL2 | 12 | Bolos Dulu, Laura adalah anak yang pintar, rajin, dan sering menjadi panutan teman-temannya. Namun, itu sudah berubah. Laura menjadi sering bolos dan tidak mendengarkan perkataan orang tuanya lagi. Orang tuanya bahkan sudah kewalahan menanggapi tingkah laku Laura.Akhirnya, pada suatu hari Ibu Laura menanyakan dengan lembut apa alasan Laura selalu bolos. Laura menjawab “Karena Laura tidak mau praktik shalat ma”. Ibu Laura pun bingung akan alasan yang Laura buat. Laura pergi ke rumah neneknya. Saat beli sayuran, ibu tetangga ada yang berkata “Namanya anak-anak, Bu, dulu Ratih saat usianya seperti Laura juga begitu Bu. Hati- hati Bu, anak-anak sekarang sangat pintar dan penuh tipu daya. Semua anak-anak bilang begitu kepada orangtuanya, katanya tidak mau praktik shalat karena Kiai meraba-raba dada dan pinggul mereka saat membetulkan ruku dan sujud. Tidak mungkin juga Kiai bersikap kurang ajar begitu ya Bu, wong Kiai ilmu agamanya tinggi. anak zaman sekarang memang pintar sekali mencari alasan. Mereka kerap kali berbohong hanya karena mereka malas mengaji, Bu.”. Ibu Laura seketika menyadarinya, lalu ia pergi menyusul Laura ke rumah neneknya. |
| Mikael Sebastian Barus | 7BIL2 | 13 | Bolos perlakuan tidak baik |
| Muhamad Anugrah Dwi Jatmiko | 7BIL2 | 14 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar |
| Nafisa Nur Fathiyya | 7BIL2 | 16 | 3 orang sekawan ingin pergi liburan ke Bandung. Mereka naik kereta jam 2.30 pagi. Awalnya semua baik-baik saja namun setelah beberapa saat di dalam kereta, Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan. Lengan Ningsih basah dan dingin, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang. Jendela dipenuhi embun dingin. Lengan yang basah semakin membeku. Mata Ningsih menghitam dan terlihat retak retak seperti bekas luka bakar. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yangpatah di dalamnya. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya mereka yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Nafisha Warawinaya Syatari | 7BIL2 | 17 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Kebetulan rumah Rendi dan aku berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh dari Jakarta. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet.kami meninkmati beval kami. Tangan Ningsih aangaat dingin seperti es. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Ni Wayan Nitikesari Widyarsani | 7BIL2 | 18 | Judul: Debu Tentang 3 orang yang melakukan perjalanan ke kota Bandung menggunakan kereta api dan mengalami kecelakaan. |
| PRATAMA ADITYA NUGRAHA WIXLI | 7BIL2 | 19 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Risda Anisa Anazaly | 7BIL2 | 21 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Sachilla Renata Noegraha | 7BIL2 | 22 | Aku, Rendi dan Ningsih mau pergi ke Bandung. Namun, tiba-tiba kereta berhenti. Dan ada asap putih dari gerbong belakang. Dan semuanya menghilang seperti debu. |
| Shira Amalia Putri | 7BIL2 | 23 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda, setelah itu aku mengajak mereka untuk masuk ke gerbong. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Ulfi Bunga Damayanti | 7BIL2 | 24 | Tanah Warisan Leluhur, tanah yang di rawat turun temurun oleh Bapa Ola Dana dan istrinya Mama Nika Dana. Mereka yang merawat kebun yang luas itu tanpa surat kepemilikan karena mereka mempercayai kebun itu adalah warisan leluhur mereka sampai kebun itu diambil oleh pemilik perkebunan karena tidak mempercayai Bapa Ola Dana yang tidak mempunyai sertifikat kebun tersebut. |
| adzkia cynara a | 7C | 1 | tanah warisan leluhur |
| Alea Putri Raditya | 7C | 2 | Aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta.Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. |
| Anna Arasy | 7C | 3 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami.Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama.Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya.Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat”.Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu.Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik.asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Arst Mutia | 7C | 4 | Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. Ada-ada saja alasan ia absen mengaji. Terkadang ia pura-pura sakit. Pernah sekali ia bersembunyi di bawah tempat tidurnya, sampai ibunya mengira ia hilang, lain waktu ia pergi ke rumah neneknya dan tidak pulang semalaman, sampai ibunya harus menjemputnya pagi-pagi untuk berangkat sekolah. |
| Athallah Devandra Rinaldy | 7C | 5 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai. Aku dan rendi menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh. Hanya ada seorang yang bersama mereka. Kita bersama-sama menikmati bekal yang di siapkan ibunya Ningsih Kereta berhenti mendadak, lampu-lampi mati dengan perlahan. Lengan Ningsih terlihat bsah dan dingin Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar |
| Aurick Adhi Perdana | 7C | 6 | Judul bacaan : Debu |
| Azzahra Cantik Setiawan | 7C | 7 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Bryan Bubba Danendra | 7C | 8 | -Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. -Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. -Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. -Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. -Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. -Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. -Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Carissa Maulidya Ananta | 7C | 9 | Atek/Anton berniat untuk menjadi sang dokter. Kuliah nya sangat lama sekali. Dan banyak kisah di balik ia menjadi sang dokter. Anton sudah resmi menjadi mahasiswa dan Anton harus menyiapkan segalanya untuk keperluan saat nge koas nanti. Anton anaknya suka gratisan, saat SMA gapernah bawa pulpen, ya paling pulpennya juga cuman ngambil di meja temen/guru, kalau dia udah dapet pulpennya berarti pulpen itu hak milik dia. Anton pun bergegas untuk nge koas. Keesokan harinya Atek ngampus, saat perjalanan ia mendapatkan notif dari Twitter ternyata ada yang mention Atek. “Lo anak IUP FK UGM, kan? Udah di kampus belum? Gue udah di kampus.” tulis akun bernama @rendygrendong. Atek pun kaget melihat itu jadi Atek tidak membalas nya saat itu, Atek sampai berfikir kalau Rendy menguntit Atek. Saat memasuki gedung fakultas, tiba-tiba ada yang menepuk punggung Atek, dia seorang cowok yang lumayan tinggi, ternyata ia adalah Rendy yang mention Atek di Twitter. Lanjut lagi Selasa depan. -Carissa 7C |
| Cyrill Zavieraa Jatnika | 7C | 10 | Debu Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan karena rumahnya ditepi kota. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Fadlan Maheswara Nur | 7C | 12 | Debu
Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Fariez Muhammad Abyan | 7C | 13 | Debu
Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku |
| Jenaia abp | 7C | 14 | Annie the secret dolls |
| KayleePutri Almira Soewargana | 7C | 15 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, Aku dan Rendi memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Aku dan Rendi pergi ke Bandung menggunakan kereta. Aku dan Rendi pergi ke stasiun bersama , kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tetapi saat nyampai di stasiun, stasiun itu yang biasanya ramai tetapi tidak. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami.Lampu – kampu mai dengan perlahan. , asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya.Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| keiko | 7C | 16 | dia bertemu dengan kakek setelah hampir setahun tidak bertemu |
| Kirana Daniswara Rengganis Prasetyo | 7C | 17 | Debu Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik.Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| M. Abyaz Bitaff | 7C | 18 | Mengenai Perbedaan Gunung Tektonik dan Vulkanik |
| rezvan | 7C | 19 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. |
| naya aisya bella putri | 7C | 21 | Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Delisha Audia | 7C | 22 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata ke kota bandung, karena di sana sudah mulai longgar dan perjalanan luar kota sudah mulai longgar. Kami pergi menggunakan kereta. Kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, kami memilih keberangkatan pagi, agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, karena rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh berada di tepi kota jakarta. Aku tak pernah datang ke stasiun sepagi ini dengan menggendong tas besar, satsiun terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Reidy arfa wicaksono | 7C | 23 | di sebuah hari ada seorang nelayan sedang mencari ikan.pada saat itu di dapat ikan emas yang bisa berbicara.kata ikan mas tersebut hei kamu lepaskan aku.karena nelayannya kasihan akhirnya di lepaskan.ikan emas pun bilang.terimakasih sudah melepaskan ku.nelayan pun bingung kenapa dia bisa berbicara.terus ikan bilang kamu mau apa aku akan kabulkan satu permintaan.aku hanya mau ikan saja.kenapa tidak mau mobil uang dll.nelayan bilang karena orang yang kaya tidak tentu hidup bahagia tamat |
| Sakhi Putra Danendra | 7C | 24 | Barangkali nama kebun itu tidak tercantum di dalam peta dunia, barangkali juga dia hanya berada dalam kenangan yang membatu, mengingatkan siapa saja yang pernah datang ke sana, selalu rindu untuk kembali. Kebun itu bernama Basagoka, berada di dusun Boto, masuk ke dalam lingkungan Desa Labalimut, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Di Boto dan kebun Basagoka ada ingatan terpendam kuat tentang kisah masa lalu dari sepasang suami istri penggarap ladang dengan tanah warisan leluhur secara turun-temurun |
| Syakkar Faishal Mu’min | 7C | 25 | Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. Ada-ada saja alasan ia absen mengaji. Terkadang ia pura-pura sakit. Pernah sekali ia bersembunyi di bawah tempat tidurnya, sampai ibunya mengira ia hilang, lain waktu ia pergi ke rumah neneknya dan tidak pulang semalaman, sampai ibunya harus menjemputnya pagi-pagi untuk berangkat sekolah. |
| Adinda Magnacinta Tahid | 7D | 2 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Namun, ditengah perjalanan kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami,begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Adjeng Queenmayra Erwin | 7D | 3 | Mereka pun hari itu akan ke Bandung menggunakan kereta pada pukul dua tiga puluh pagi. Setelah janjian bertemu di stasiun. Akhirnya mereka masuk ke gerbong. Diperjalanan mereka makan bekal yang disiapkan. Saat itu juga kereta berhenti mendadak, lampu kereta mati, dan terlihat asap. Akhirnya mereka hanya bisa memejamkan mata, dan tak lama ada suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah mereka. |
| Ariya Prabawa Mahatamtama | 7D | 5 | Gerombolan pemuda yang ingin rekreasi namun saat berada di kereta mereka malah mendapatkan kisah horor. |
| Atarisya Zafrina Viniarta | 7D | 6 | Tentang orang yang pergi ke bandung untuk berwisata. Namu saat di kereta tiba-tiba asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. |
| Bedhaya Lingkar Hayuningrat Ind | 7D | 7 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami.Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta.kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut.Matanya Ningsih menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil.Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Camilla Elviana Rully | 7D | 8 | Hal yang menyeramkan dialami kelompok teman, tetapi cuma 1 yang dapat keluar |
| camila ramaniya putri | 7D | 9 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami,setelah sampai di stasiun terlihat sepi dan terasa lebih dingin dari biasanya.akhirnya sampai di dalam gerbong diperjalanan kami menikmati bekal yang disiapkan ibu nya ningsih.tiba tiba kereta berhenti lampu lampu kereta mati dengan perlahan,asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang aku dan rendi tak berani untuk membuka mata Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Ezra Arya Pamuwesa | 7D | 10 | 3 orang berteman dan ingin keluar kota. Mereka keluar kota menggunakan kereta, tetapi pada saat mereka di stasiun, suasana sangat sepi dan tidak ada orang. Ketika mereka masuk kereta juga tidak ada orang. Pada saat di kereta, mereka mengalami aktivitas aktivitas yang mistis dan tidak normal. |
| Farrel Muhammad Adriansyah | 7D | 11 | Bapa Ola dan istrinya menatap mereka dengan wajah yang sulit untuk dilukiskan, kesedihan dan air mata terlihat di wajah Mama Nika Dana. |
| Kiagus hafiz Kenzie luthfan | 7D | 13 | Jadi kita tidak boleh bolos karena akan rugi ilmu dan kita tidak dapat tentang pembelajarannya. |
| klara khairunnisa | 7D | 14 | jangan pernah membolos |
| Mahatma Kautsar Budiman | 7D | 15 | Ada seorang remaja dan teman teman nya ingin liburan ke Bandung. akhirnya mereka memesan tiket kereta yang berangkat pagi hari. saat di perjalanan kereta itu tiba tiba terhernti dan kami merasakan hal yang janggal lalu ada asap dingin yang menghampiti mereka dari belakang namun asap itu tiba tiba berhenti dan mereka selamat |
| Marlla Zaura Zalyca | 7D | 16 | Ada anak yang berantem terus sehungga bolos nerhari-hari |
| M airlangga d | 7D | 18 | Kisah itu terus bergulir tanpa terputus oleh waktu. Siapa sesungguhnya yang memiliki kebun Basagoka, masih menjadi tanda-tanya, namun ada cerita yang dapat dipercaya, kebun itu milik para pemangku ulayat Lamarotok dan Lefketoj, dua kepala suku besar di Dusun Boto |
| Muhammad Haidar Nurrasyid | 7D | 20 | Tentang tanah warisan leluhur |
| Neysha Chintyana Fitri | 7D | 23 | Pengalaman misterius ‘Aku’ dan Rendi saat di dalam kereta. |
| Aryasatya satrio putra purwanto | 7E | 3 | Kucing mengejar tikus karena dongeng dari china |
| Charissa Filzaiera Pradinamurti | 7E | 4 | Debu
Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Kadek Keysha Bella Mahadivya | 7E | 9 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik |
| Ni Made Distya Alinskie PSP | 7E | 16 | Barangkali nama kebun itu tidak tercantum di dalam peta dunia, barangkali juga dia hanya berada dalam kenangan yang membatu, mengingatkan siapa saja yang pernah datang ke sana, selalu rindu untuk kembali. Kebun itu bernama Basagoka, berada di dusun Boto, masuk ke dalam lingkungan Desa Labalimut, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Di Boto dan kebun Basagoka ada ingatan terpendam kuat tentang kisah masa lalu dari sepasang suami istri penggarap ladang dengan tanah warisan leluhur secara turun-temurun. |
| Vrisco Prasetyo | 7E | 24 | semuanya menghilang seperti debu |
| Amadea Azarin Maharani | 7F | 1 | Tips menghias kado |
| Aneira Sophianashira | 7F | 2 | ainun bertemu dengan manusia daun tetapi semua orang tidak mempercayainya |
| Aurelia Tiara Aviza | 7F | 5 | Kelompok tumbuh tumbuhan, ciri umum anggota kingdom plantae adalah makhluk hidup multiseluler, sel selnya bersifat eukariotik, dan mampu melakukan fotosintesis. |
| Bagus Putra Pratama | 7F | 6 | Kebun itu bernama Basagoka, berada di dusun Boto, masuk ke dalam lingkungan Desa Labalimut, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. |
| Barrghany zulfikar Indrarta | 7F | 7 | tidak perlu bolos |
| Bintang Anggaraksa Hidayat | 7F | 8 | Tanah leluhur |
| Cyra Naraya C | 7F | 9 | tini sangat senang karna ada acara festival bunga didaerahnya karna itu ia bisa menghias mobil nya dengan bunga bunga |
| Gadis Rahmani Aksan | 7F | 11 | Jukyung merasa risih karena terus di dekati oleh Seojun. Awalnya Seojun berniat mendekati Jukyung untuk memanas manasi Suho. Tapi lama kelamaan mulai tumbuh benih cinta Seojun kepada Jukyung. |
| Gufira Adli Rakhsha | 7F | 13 | Laura yang tidak mau mengaji dengan alasan kiainya meraba-raba dada dan pinggul mereka saat membetulkan ruku dan sujud |
| Jessica Nata | 7F | 15 | Suatu pagi, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung sebagai destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami berangkat menggunakan kereta karena tidak ada satupun dari kita yang bisa menggunakan kendaraan. Kebetulan kami mendapatkan jadwal yang pagi, agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan. refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Muhammad Terry Chelsea | 7F | 17 | Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di |
| muhammadalifqynasrulloh | 7F | 18 | fallsar is the king of ice |
| Naddif Arrasyid Widyatama | 7F | 19 | Pada suatu hari ada kebun Basagoska berada di dusun Boto. di bagoska terdapat lahan tidur man giok dan tanah tersebut menjadi nafas kehidupan boto. saat bulan terakhir istri bapak ola mau melahirkan terus saat itu mereka berada di kebun, dan akhirnya melahirkan saat sudah pulang ke rumah. dan saat bayi berumur 40 hari ternyata lahan nya itu di panenkan orang yang bukan penduduk boto karena nggak ada setifikat resmi pemilik nya dan pak ola pun kehilangan lahan dan mereka menjadi nelayan agar dapak mengomsumsi ikan. |
| Raditya Rizky Setyawan | 7F | 22 | Kegagalan tidaklah menakutkan , yang menakutkan itu adalah dikalahkan oleh kegagalan dan tidak bangkit kembali. Kita harus berani bangkit dari kegagalan dan berusaha mengejar impian , hingga suatu hari tercapai dan meraih kesuksesan. |
| Rayna Kania Wicaksono | 7F | 24 | Pangeran Inu Kertapati ingin mempersunting anak raja Kertamata, yaitu putri Candra Kirana. Namun, saudara putri yang bernama Dewi Galuh merasa iri dan menyingkirkan putri dari istana melalui bantuan penyihir. Putri dikutuk dan diubah menjadi keong mas |
| Shayna Zahira | 7F | 25 | Debu
Aku, Rendi, dan Ningsih berencana utk berlibur ke Bandung setelah masa PSBB berakhir. Kami memutuskan naik kereta api paling pagi, pukul 2.30 dini hari. Aku dan Rendi berangkat bersama menuju stasiun karena memang rumah kami berdekatan. Saat kereta sudah berjalan, kami sarapan dengan menu yang dibawakan Ibu Ningsih, namun tiba-tiba kereta berhenti mendadak sampai kami terantuk sandaran kursi di depan. Asap putih muncul dari gerbong belakang dan jendela kereta dipenuhi embun dingin seperti es. Aku dan Rendi terkejut dan saling berpegangan tangan karena terkejut. Kulihat ke arah Ningsih, sepertinya lengannya basah dan dingin. Namun aku semakin terkejut ketika melihat kembali ke arah Ningsih yang matanya berubah menghitam dan retak-retak diikuti suara leher dan kepalanya seperti tulang yang patah. Lalu terdengar suara derap langkah kaki yang cepat menuju ke arah kami, dan semuanya menghilang menjadi debu. Sebenarnya kami dimana, apa yang telah terjadi? |
| Angela Aurelie | 8A | 3 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| bregas banyu | 8A | 5 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar akau dan kawan kawan ku pergi berlibur ke bandung menggunakan kereta, kebetulan mereka mendapat jadwal pemberangkatan pagi, mereka sengaja memilih itu karena mereka ingin menikmati tanah bandun lebih lama Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta.Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan,gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar |
| Erlangga Arya Nadindra | 8A | 9 | Karakter “aku” bersama Rendi Memutuskan utk Pergi ke bandung utk efresihng. mereka mengambil adwal keberangkatan kereta paling pagi agar Dapat lebih lama di bandung lalu Ketika naik kerta bersama temannya, ada asap putih dari gerbong kereta. temannya2 hilang |
| falisya azalea santika | 8A | 10 | setelah dibukanya masa pembatasan sosial, mereka berencana pergi untuk berwisata dibandung. mereka menggunakan transportasi kereta untuk pergi ke bandung. ditengah perjalanan mereka terkejut karena kereta berhenti dengan tiba-tiba. tangan salah satu dari mereka sudah dingin. matanya hitam dan terdengan seperti tulang retak didalamnya. mereka menunduk dengan rasa takut didalam kereta. |
| Hanifa Widya Khairunnisa | 8A | 13 | Bapa Ola dan istrinya menatap mereka dengan wajah yang sulit untuk dilukiskan, kesedihan dan air mata terlihat di wajah Mama Nika Dana. Puluhan petani mengelilingi sawah mereka sambil duduk tepekur dengan wajah kosong. Barangkali nama kebun itu tidak tercantum di dalam peta dunia, barangkali juga dia hanya berada dalam kenangan yang membatu, mengingatkan siapa saja yang pernah datang ke sana, selalu rindu untuk kembali. Kebun itu bernama Basagoka, berada di dusun Boto, masuk ke dalam lingkungan Desa Labalimut, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Di Boto dan kebun Basagoka ada ingatan terpendam kuat tentang kisah masa lalu dari sepasang suami istri penggarap ladang dengan tanah warisan leluhur secara turun-temurun. Kisah itu terus bergulir tanpa terputus oleh waktu. Siapa sesungguhnya yang memiliki kebun Basagoka, masih menjadi tanda-tanya, namun ada cerita yang dapat dipercaya, kebun itu milik para pemangku ulayat Lamarotok dan Lefketoj, dua kepala suku besar di Dusun Boto. Tanah ulayat inilah yang menjadi tumpuan hidup sehari-hari pasangan suami-istri yaitu Bapa Ola Dana dan istrinya Mama Nika Dana. Kebun yang oleh orang NTT disebut mamar itu telah menjadi rumah kedua bagi mereka. Berdekatan dengan kebun itu tinggal Bapa Johanis Kerung dan istrinya Mama Maria Kerung. Bapa Johanis Kerung tukang iris tuak dari nira pohon lontar, ia lelaki paruh baya yang juga warga asli Dusun Boto. Tak jauh dari sana, terdapat lahan tidur yang diberi nama Man Giok, lahan itu masuk dalam kawasan Basagoka dan Dusun Feror, di sana ada juga beberapa lahan yang menjadi milik Bapa Ola Dana. Penduduk setempat membenarkan kalau lahan itu memang sah miliknya.Tanah telah menjadi napas kehidupan bagi penduduk Boto. Mereka bisa seminggu tidak pulang ke rumah, tidur di ladang di dalam rumah bebak: rumah tradisional khas NTT yang berpagar dan beratap daun lontar dengan fondasi dari tanah dan tiang bambu. Rumah bebak ini sudah menjadi rumah kedua mereka. Jika mereka meninggalkan kebun, barang seminggu saja, babi hutan akan datang menggasak beragam tanaman palawija yang ada di sana. Tanaman jagung akan habis seketika. Jagung manis khas Boto sangat gurih rasanya. Olahan dari jagung terkenal di NTT, namanya jagung bose, penganan ini merupakan campuran jagung, santan dan gula merah terbuat dari air nira pohon lontar. Suatu hari di bulan terakhir untuk masanya melahirkan, istri Bapa Ola, Nika Dana merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. ”Saya rasa bayi kita akan segera keluar,” katanya sambil menahan air ketuban yang mengalir di celah kedua pahanya. Bapa Ola panik, berada di tengah kebun yang luas, dengan dikelilingi areal pertanian lodok lingko yang mirip jari-jari sepeda itu, sungguh telah membuatnya bagai berada di hutan gelap gulita. Di pemikirannya yang lugu, dia tak pernah memprediksi kapan waktunya sang istri akan melahirkan. Dia hanya seorang laki-laki dengan pendidikan yang tidak tamat sekolah dasar, yang ia ingat, ketika ibunya melahirkan adiknya, untuk memotong tali pusar hanya dengan menggunakan irisan bambu yang tajam. Kemudian, ayahnya akan merebus kunyit, daun alang-alang, daun salam dan serai untuk membasuh kotoran usai melahirkan. Semua bahan-bahan itu ada di kebunnya, namun bagaimana cara mengeluarkan bayi yang mendesak untuk keluar dari rahim ibunya, ia sama sekali tidak tahu. Jalan satu-satunya menghubungi Bapa Johanis Kerung dan istrinya, Maria, yang tinggal tak jauh dari kebun mereka. Ia berharap Mama Maria Kerung tahu tentang cara melahirkan alami sebab dia pernah menggelontorkan tujuh orang anak. ”Semoga mereka tidak pulang ke Boto,” gumamnya sambil bergegas ke kebun pasangan suami istri manula itu. Alur perjalanan ke tempat perkebunan Bapa Johanis Kerung tak semudah yang dibayangkan. Hutan lebat, ular cobra, dan binatang buas lainnya, menjadi teman terdekat yang harus disikapi dengan segenap kesabaran dan kewaspadaan tingkat tinggi. Tapi untungnya jalur ini telah biasa dilaluinya. Bapa Ola akhirnya berhasil mengajak Bapa Kerung dan istrinya ke rumah bebak tempat sang istri meradang kesakitan. Tiba di sana, mereka terkejut, si jabang bayi sudah berada di sisi ibunya, darah masih terlihat di sana- sini. Sang ibu, Nika Dana, tertidur di sisi si bayi yang menangis kelaparan. Tali pusat kemudian dipotong dengan belati milik Bapa Kerung, belati itu sudah diolesi irisan kunyit bercampur daun sirih. Kemudian Mama Maria membersihkan tubuh Nika Dana dengan rebusan air hangat berisi ramu-ramuan yang ia ketahui, ramuan itu khusus untuk ibu yang baru melahirkan. Ia menaruh tali pusar si bayi di atas bakul pinang. Setelah didoakan, dikubur tak jauh dari rumah bebak. Pasangan suami istri ini dan Bapa Ola. kemudian membuat tandu, membawa Mama Nika Dana ke Boto, mencari bidan akan mereka lalui. Bayi yang ada di punggung ibunya, terlelap dalam keranjang yang |
| Magnalli N.A | 8A | 22 | Aku dan kedua teman ku berencana untuk menikmati hari di Bandung. Kami akan ke Bandung menggunakan kereta yang pergi pada pukul 2:30 pagi, saat kita semua memasuki kereta hal-hal yang aneh terjadi, badan Ningsih membeku, and muncul-lah debu putih di dalam kereta |
| Raisya aina ependi | 8A | 25 | aku, Rendi dan Ningsih berencana pergi berwisata ke kota bandung. mereka memutuskan untuk memakai kereta, Aku baru pertama kali pergi ke stasiun sepagi ini, dan lagi aku juga memakai tas besar. aku, ningsih dan rendi duduk di kereta tiba tiba kereta tersebut berhenti dan muncul asap putih yang mulai menyeruak dari gerbong belakang. kami refleks berpegangan tangan karena terkejut, lengan Ningsih sedikit basah dan dingin. Rendi menelungkupkan kepala nya dibalik jaket yang kukenakan karena merasa takut, saat kulihat lagi ke arah ningsih, mata nya menghitam, aku dan rendi hanya terdiam ketakutan. |
| Rengganis Pramesthi | 8A | 26 | Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. Ada-ada saja alasan ia absen mengaji. Terkadang ia pura-pura sakit. Pernah sekali ia bersembunyi di bawah tempat tidurnya, sampai ibunya mengira ia hilang, lain waktu ia pergi ke rumah neneknya dan tidak pulang semalaman, sampai ibunya harus menjemputnya pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Sebagai ibu, ia merasa gagal dibandingkan dengan ibu-ibu lain tetangganya. Walaupun latar belakang pendidikan mereka masih sangat minim, nyatanya mereka lebih berhasil membujuk anak-anak mereka yang membolos dari pada ia dan suaminya yang punya latar belakang pendidikannya yang baik. tapi suatu hari “Namanya anak-anak, Bu, dulu Ratih saat usianya seperti Laura juga begitu Bu. Hati- hati Bu, anak-anak sekarang sangat pintar dan penuh tipu daya. Semua anak-anak bilang begitu kepada orangtuanya, katanya tidak mau praktik shalat karena Kiai meraba-raba dada dan pinggul mereka saat membetulkan ruku dan sujud. Tidak mungkin juga Kiai bersikap kurang ajar begitu ya Bu, wong Kiai ilmu agamanya tinggi. anak zaman sekarang memang pintar sekali mencari alasan. Mereka kerap kali berbohong hanya karena mereka malas mengaji, Bu.” tambah tetangganya yang lain. Ibu Laura terenyak mendengar kata-kata tetangganya, tanpa bisa berkata apa-apa ia buru-buru pergi meninggalkan para tetangganya menuju rumah nenek Laura. |
| Adrienna Tiara Putri | 8B | 2 | Tokoh aku, Rendi, dan Ningsih pergi berwisata setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar. Mereka akan pergi ke Bandung menggunakan kereta jam 2.30 pagi, agar dapat menikmati Tanah Bandung lebih lama. Tokoh aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama karena rumah mereka berdekatan, hanya Ningsih yang rumahnhya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tokoh aku telah sampai di stasiun dengan tas besarnya bersama temannya Rendi, sedangkan Ningsih datang di saat-saat terakhir keberangkatan. Gerbong yang mereka duduki jauh lebih sepi dibandingkan stasiun tadi. Hanya ada satu orang yang duduk di dekat pintu toilet. Tetapi mereka hanya meniikmati bekal yang sudah disiapkan ibunya Ningsih. Tiba-tiba kereta berhenti dengan kontan, lampu-lampu kereta mati dengan perlahan mereka refleks berpegangan tangan karena terkejut. Tokoh aku mengalihkan pandangannya kepada Ningsih yang mungkin karena panik, lengannya sedikit basah dan dingin. Asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin seperti es, Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang tokoh aku kenakan. Lengan Ningsih yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, tokoh aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya.Tokoh aku tidak berani untuk membuka mata. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah mereka, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, dan hanya mereka yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Alkahfi Malik Riady | 8B | 3 | Darko Rahasia piramida |
| Alyssandra Aneeqa Asmorowati | 8B | 4 | DEBU ada 3 orang yang hendak pergi ke bandung menggunakan kereta , sengaja mereka mengambil keberangkatan jam 2.30 agar dapat merasakan tanah bandung lebih lama. Ningsih salah satu teman mereka yang tinggalnya jauh dari stasiun datang terlambat setelah mereka semua berkumpul mereka naik kereta , begitu naik mereka makan makanan yang diberikan oleh ibunya Ningsih. Tidak lama dari itu kereta berubah menjadi berembun dan ketika mereka liat ningsih , badan ningsih pucat , kaku , dan matanya retak. Kemudian ternyata mereka hanya berada di tengah rel kereta dan hanya masuk ke “imaginasi” ghaib |
| Arian Hadi Wijaya | 8B | 6 | di daerah NTT ada sepasang suami istri bernama Bapa Ola Dana dan Mama Nika Dana yang tinggal di kebun sebagai rumah keduanya karena alasaan untuk menjaga kebun dari babi hutan. suatu hari Mama Dika Dana akan melahirkan, tetapi Bapa Ola Dana bingung harus bagaimana karena mereka ada di tengah kebuh jauh dari pemukiman seolah rasanya di tengah hutan. Apalagi Bapa Ola Dana tidak mengerti proses melahirkan dan cara membantunya. Karena itu Bapa Ola Dana meminta bantuan Bapa Johanis dan istrinya ke kebun mereka, dan saat mereka sampai betapa terkejutnya mereka melihat bayi itu sudah terlahir. lalu saat bayi itu sudah berumur 40 hari Bapa Ola, dan Mama Nika yang sedanga mengendong bayi itu ke kebun tiba tiba terkejut bahwa kebun mereka telah diambil alih oleh orang yang taak dikenal karena tidak memiliki sertifikat. Maka setelah itu Bapa Ola dan Mama Nika pun berubah profesi menjadi nelayan. |
| Fiorenza Amararatna Agstyawardhana | 8B | 7 | Tentang Ellayene yang bermusuhan dengan Jihan, akhirnya mereka membuat kesepakatan untuk menjual manik-manik dan siapa yang menjualnya paling laku dia yang menang. |
| Ghaniya Laetitia Prasetyo | 8B | 8 | saya membaca buku petualangan tintin wartawan le petit vingtieme di tanah sovyet . |
| I Made Arya Wijana | 8B | 9 | Setelah masa PSBB berakhir, tiga orang akan berangkat berwisata ke Bandung. Mereka naik kereta di pagi hari. Kereta berhenti dengan kontan. Sampai semuanya menghilang menjadi debu. |
| Ida Bagus Wiranatha Nararya Mahaputra | 8B | 10 | Laura adalah anak perempuan dari sebuah keluarga kecil. Ia awalnya adalah anak yang sangat rajin dalem sekolah dan juga mengaji. Namun sekarang Laura adalah anak nakal yang malas mengaji dan pergi ke sekolah. Ibunya kebingungan bagaimanan cara agar Laura ingin mengaji lagi dan menjadi anak rajin seperti dahulu. Tampaknya Laura menjadi nakal karena banyak teman-temannya yang nakal sepertinya. Ibu Laura dan Ayahnya pun kebingungan dan akhirnya menyerah. Namun tetangga Ibu Laura memberi tahu bahwa memang anak-anak zaman sekarang lihai dalam menipu. Mereka mungkin memiliki alasan yang lebih dalam daripada yang mereka katakan. Lalu Ibu Laura pun langsung pergi mencari Laura untuk menanyakan apa yang terjadi dengan Laura. |
| Ida I Dewa Gede Ray Adhyatma Kancana | 8B | 11 | Laura merasa tidak ingin mengaji karena bosan. Namun ibu dan bapakknya tetap mengusahakan ia mengaji, karena menjadi putri yang berbudi akhlak adalah satu-satunya keinginan mereka yang sampai sekarang belum tercapai. Ada kalanya Laura pura-pura sakit, bilang kalau masih punya tugas sekolah, dan lain-lainnya agar absen mengaji. Akhir-akhir ini, Laura memang seringkali nakal di sekolah. Mulai dari menahili temannya, iseng-iseng dengan guru, dan lain-lainnya. Akhirnya, orang tuanya pun mengajak tetangganya untuk membantu Laura agar rajin mengaji sehingga terhindar dari sifat-sifat yang buruk. |
| jasmine tabina mecca | 8B | 12 | Debu
aku (penulis), rendi, dan ningsih pergi berwisata ke bandung. mereka pergi dengan kereta dan jam pemberangkatan kereta yang mereka pilih adalah jam 02.30 pagi. mereka memilih jam pagi karena ingin menghabiskan waktu di bandung lebih banyak. rumah penulis dekat dengan rendi jadi mereka berdua pergi ke stasiun bersama, rumah ningsih jauh dari mereka jadi ia berangkat sendiri dan ningsih telat. mereka masuk ke kereta dan suasananya sangat sepi. mereka sedang makan dan tiba-tiba ditengah perjalanan, kereta berhenti secara spontan. keluar asap dari belakang dan lengan ningsih menjadi basah dan sangat dingin. saat penulis melihat keadaan ningsih, ia melihat ningsih yang matanya menghitam dan kepalanya yang menengok kaku. penulis dan rendi mendekat, ia tidak berani membuka matanya. semuanya menghilang seperti debu tertutup asap, hanya mereka yang merunduk ketakutan ditengah rel kereta yang bergetar. |
| Kayla Sabrina Irawan | 8B | 14 | Ringkasan bacaan “Debu” adalah tiga orang sahabat berlibur ke Bandung, mereka berangkat ke Bandung menggunakan kereta pada pukul 2.30 pada pagi hari. Saat sedang dalam perjalanan, kereta tiba tiba berhenti dan terjadi hal hal aneh lalu salah satu diantara mereka berubah menjadi debu. |
| Kelvin Hanif | 8B | 15 | Kelompok teman pergi ke Bandung untuk berwisata. Mereka pergi dengan kereta pada pukul 02.30. Saat mereka dikereta, mereka melihat Ningsih duduk didekat pintu toilet lalu kereta berhenti dan lampu mati. Mereka melihat Ningsih dan dia terlihat seperti mayat lalu, dia menghilang. |
| Lakeisha | 8B | 16 | Ada 3 orang yang mau liburan ke Bandung. mereka mendapat jadwal berangkat pukul 02.30. Saat mereka menikmati bekal Ningsih tiba tiba keretanya mendadak berhenti dan lampu kereta juga mati. Mereka semua ketakutan dan 1 temannya bernama Ningsih membeku perlahan. |
| leandra aisha budiman | 8B | 17 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan.“Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. |
| Mohamad Tristan Zihni | 8B | 19 | debu= ada sekelompok orang ingin berpiknik ke bandung memakai kereta namun di kereta ada hal yang tidak terduga kereta tiba tiba berhenti salah satu teman mereka yaitu ningsih lengannya sedikit basah dan dingin. suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar |
| Moh gabriel Caesar Sadikin | 8B | 20 | Debu |
| Muhammad Rafly Gunawan | 8B | 21 | Tentang tanah warisan leluhur |
| Naila Azizah | 8B | 23 | Tentang persahabatan yang rumit dan horor |
| Orient Niscalla Wiyasa | 8B | 25 | 3 orang ingin pergi ke suatu tempat, karena dari mereka bertiga tidak ada yang bisa mengendarai transportasi, mereka menggunakan kereta pagi, saat ditengah-tengah perjalanan kereta berhenti tiba-iba, mereka terkejut dan semua orang berubah menjadi debu dan tinggal mereka bertiga di tengah-tengah rel kereta api. |
| Rafarla Svenska Ash-Shofa | 8B | 26 | Debu menceritakan tentang kisah horor 3 orang yang mau ke bandung melalui kereta |
| Tivanny Agnesya Martana | 8B | 28 | Tanah Warisan leluhur |
| Aksa Rachman | 8BIL1 | 3 | Pada suatu hari, penulis dengan temannyaberlibur ke Bandung. Mereka pun memutuskan untuk pergi ke Bandung dengan kereta. Mereka pergi di dina hari supaya mereka dapat berlibuar di Bandung semakin lama. Saat mereka datang ke statsiun, susana udarnaya terasa dingin dan suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema. Tiba-tiba, Ningsih yaitu temannya datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Saat mereka sedang memakan bekalnya, tiba-tiba Ningsih menghilang secara sekejap menjadi debu. Merek apun langsung teringat bahwa mereka sedang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Alivia Khaira Umma | 8BIL1 | 4 | aku dan temanku memutuskan untuk pergi berlibur ke bandung menggunakan kereta setelah dibukanya pembatasan sosial berskala besar. kami mendapatkan jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja suapaya bisa menikmati tanah bandung lebih lama. aku dan rendi berangkat bersama menuju stasiun, sedangkan ningsih menyusul. suasana stasiun yang sepi membuat suara mikrofon terdengan begitu menggema. ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. aku mengajak mereka masuk ke gerbong. perjalanan berlanjut dan gerbongnya jauh lebih sepi dibandingkan stasiun tadi. saat kami hendak memakan bekal bersama, kereta berhenti dan tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. lampu-lampu kereta mati dan kami refleks berpegangan tangan. kurasakan tangan ningsih sedikit basah dan dingin. asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin. lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris membeku, aku kembali menengok untuk mengecek ningsih. matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar. kepalanya menengok dengan kaku, terdengan bunyi tulang yang patah di dalamnya. aku tidak berani membuka mata. lalu suara derap langkah terdengan begitu cepat kearah kami, begitu membara diikuti kabut lebat dan udara dingin. hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar, hingga semuanya menghilang seperti debu. |
| Anadhya Khayyira P.Y. | 8BIL1 | 5 | Tokoh aku dan temannya, Rendi pergi untuk naik kereta bersama. Tetapi kereta tersebut ternyata bukan kereta asli melainkan kereta ghaib. |
| Caesar Valent Alvry | 8BIL1 | 7 | Pada buku Why? Establishment and Advancement of Europe halaman 138-159, diceritakan bagaimana perkembangan kota-kota eropa dan bagaimana sistem Feodalisme hancur. |
| Dimas Raditya Kusuma Putra | 8BIL1 | 8 | Bapa Ola dan istrinya menatap mereka dengan wajah yang sulit untuk dilukiskan, kesedihan dan air mata terlihat di wajah Mama Nika Dana. Puluhan petani mengelilingi sawah mereka sambil duduk tepekur dengan wajah kosong. Barangkali nama kebun itu tidak tercantum di dalam peta dunia, barangkali juga dia hanya berada dalam kenangan yang membatu, mengingatkan siapa saja yang pernah datang ke sana, selalu rindu untuk kembali. Kebun itu bernama Basagoka, berada di dusun Boto, masuk ke dalam lingkungan Desa Labalimut, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata. |
| Jinan Fauzeya Rayandhi | 8BIL1 | 11 | Pada cerita tersebut, pencerita dan temannya ingin berwisata ke kota bandung. Mereka berangkat menggunakan kereta. Jadwal pemberangkatan mereka setengah 3 pagi. Pada saat di stasiun keadaan sangat dingin sekali dan sepi sampai suara microphone dari tempat penunggu loket sangat menggema. Saat mereka ada di perjalanan, tiba-tiba kereta berhenti dengan kontan, dan setelah itu asap putih memasuki kereta. |
| Kenza Ardraputra Rezyarifin | 8BIL1 | 13 | Suatu hari kaca di masjid dipecahkan karena ada perkelahian anak anak. Dulu Laura adalah anak baik yang menjadi panutan anak anak lainnya. Tapi sekarang kelakukannya semakin buruk, dia bolos mengaji dengan alasan alasan yang aneh, dia menjadi nakal dan menjadi pemimpin geng anak nakal. Bapaknya yang turun tangan juga tidak bisa merubah kelakukannya, sampai akhirnya bapaknya tidak acuh lagi, tapi agama adalah hal yang penting, tanpa agama maka tidak ada moral maka akan ada kejahatan, korupsi, dll. Suatu hari (sama dengan yang ada di awal paragraf) terjadi huru hara di depan mesjid, sampai kaca masjid pecah. Ibu Haji dan Kiai memanggil semua murid, tidak ada yang mengaku, justru malah melemparkan kesalahan satu sama lain, mungkin karena mencontoh pejabat tinggi. Ibu Haji marah dan akan menghukum semua murid jika tidak ada yang mau mengaku, tapi diantara anak anak nakal itu selalu ada yang berkhianat agar mendapat pujian, mereka mengadu bahwa Laura dan gengnya yang memecahkan kaca. Ibu Haji ingin mengukum mereka semua tapi Kiai malah membelanya dan melepaskan semua anak anak nakal tersebut. Tapi satu persatu anak malah membolos mengaji, puncaknya saat Maulid nabi dimana setengah murid perempuan bolos, sampai orangtua harus turun tangan untuk mengantarkan anaknya dan mengawasinya sampai sana agar tidak kabur, tapi berbeda dengan Laura, dia tidak mau pergi walaupun sudah diguyur air oleh bapaknya, akhirnya dia kabur ke rumah neneknya untuk mendapat perlindungan. Tetangganya pada bergosip mengenai orangtua Laura yang berpendidikan tinggi dan tidak bisa mengatur anaknya. |
| Mumtaz Aqila Razak | 8BIL1 | 15 | Mengunjungi tempat wisata dengan teman teman untuk mengendarai kereta api tetapi aku terlambat tetapi terjadi kecelakaan |
| Nafisa Zeta Oktavian | 8BIL1 | 16 | masa pembatasan sosial skala besar akhirnya selesai lalu 3 orang itu berencana untuk pergi ke bandung menggunakan kereta pukul 2.30 pagi. tapi tibatiba keanehan terjadi saat semuanya berubah menjadi debu. |
| naura rizka maharani | 8BIL1 | 17 | menceritakan tentang persahabatan yang terpecah dikarenakan adanya perlombaan |
| Rizqidia N.R | 8BIL1 | 20 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, sekelompok teman memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata mereka. Mereka pergi menggunakan kereta karena memang tidak ada yang dapat membawa kendaraan. Mereka mendapat jadwal kereta jam 2.30 pagi. Namun ketika kereta sedang berjalan tiba-tiba keretanya berhenti. tiba-tiba suhu dalam kerata semakin dingin, dan salah satu dari ketiga teman tersebut memutarkan menengok kearah teman-temannya yang lain dengan suara seperti tulang dipatahkan. dan setelah itu kreta tersebut menghilang seperti debu menyisakan kedua teman yang sedan berpelukan erat Karena ketakutan. |
| Tristan Adia Kaory | 8BIL1 | 22 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| maritza asthari rishwana | 8BIL1 | 24 | seorang anak bernama ruth yg sedang menceritakan masa lalu nya kpd risa |
| Alanna Fitria Kirana | 8BIL2 | 1 | Tentang debu |
| Almer Phalevi Firdaus | 8BIL2 | 2 | Penulis, Ningsih, dan Rendi ke bandung melalui kereta |
| Altair Athar Maulana Roesli | 8BIL2 | 3 | Menceritakan debu |
| Anargya Tirta Pratama Sigit | 8BIL2 | 5 | Tanah Warisan Leluhur |
| Arga Bramantyo Anggoro | 8BIL2 | 6 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan.
Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu! tegur Rendi bercanda Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Athaya Fawnia Epafroditus | 8BIL2 | 7 | 3 bersahabat memutuskan untuk pergi berwisata ke Bandung. Mereka memutuskan untuk pergi menggunakan kereta karena dari ketiga mereka, belum ada yang bisa menggunakan kendaraan pribadi. Mereka memutuskan untuk memilih jadwal yang paling pagi agar mereka dapat menikmati Bandung lebih lama. Saat mereka sampai di stasiun, mereka bergegas masuk ke dalam kereta. Di dalam kereta, mereka memakan bekal dari salah satu ibu mereka. Saat di tengah perjalanan, kereta yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti. Mereka pun kebingungan mengapa kereta mereka tiba-tiba berhenti. Kemudian seseorang melihat sebuah kabut asap di dalam gerbong depan. Mereka hanya bisa terdiam di dalam duduk mereka dan berdoa agar pertolongan segera datang. |
| Bagas Raditya Utomo | 8BIL2 | 8 | Jangan Bolos |
| Charissa Chelsky Candradewa | 8BIL2 | 10 | Debu
Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku |
| freya lubna kamilia | 8BIL2 | 11 | Ali membuat ILY |
| Halzahra Arkenzie Malik | 8BIL2 | 12 | Ttg laura yang tidak mau mengaji |
| Jivara Faiza Ridwansyah | 8BIL2 | 13 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Kayla Purawinata Putri K | 8BIL2 | 14 | menceritakan tentang Laura yang pemalas dan sering bolos |
| keira athalia callista | 8BIL2 | 15 | Sinopsis Nevertheless berkisah tentang dua karakter utama Park Jae Eon yang diperankan oleh Song Kang dan Yu Na Bi yang diperankan oleh Han So Hee. Dalam cerita, Yu Na Bi mengalami trauma pada cinta setelah melalui perjalanan cinta pertama yang berakhir buruk |
| Nadia Salsabilla | 8BIL2 | 18 | Pada jaman dahulu hiduplah seorang dua soudara yang memiliki sifat yang berbeda. Aurel adalah anak yang sangat rajin dan sabar, sedangkan soudaranya sombong dan angkuh. Pada saat itu soudaranya menyuruh aurel untuk pergi kerja di sebuah istana. Aurel terpaksa untuk pergi. Saat sesampainya disana ia menemukan istana yang sangat besar, ia masuk dan bertemu dengan 7 peri. Peri itu mempersilahkan aurel untuk masuk dan memberi syarat bahwa ia diberikan waktu 1 bulan untuk kerja dan tidak boleh sedikitpun memasuki kamar nomor 7. Aurel menerimanya. Saat sebulan usai peri tersebut memberikan kepingan emas karena sangat menghargai kerja keras dan kejujuran aurel. Aurel lalu diajak pergi ke kamar nomor 7 tersebut, ternyata terdapat jutaan emas dan perak didalamnya. Lalu aurel boleh mengambil berapapun yang ia mau. Ia pulang dari istana tersebut dan pulang ke soudaranya. Soudaranya bingung dapat darimana emas dan perak sebanyak ini? Lalu dia pergi ke istana untuk mendapatkannya. Tapi pada saat itu soudaranya masuk keadalam kamar no 7 padahal sudah dikatakan untuk tidak masuk. Tetapi saat ia masuk kamar no 7 disitu banyak sekali serangga dan katak yang sangat bau. Soudara itu teriak dan pulang dengan keadaan sangat kotor dan pulang tanpa emas tersebut. |
| Regan Shaquille Ammarsany | 8BIL2 | 20 | Aku dan temanku berjalan-jalan ke Bandung dari Jakarta dengan kerata di kerete mereka memakan bekal oleh Ibunya Ningsih sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku melihat nigsih keliatan dingin, terdengar suara kaku dan tulang ternyata cuman debu. |
| Siti Aisha Humaira Alamsyah | 8BIL2 | 22 | Buku ini merupakan salah satu seri dari “Why? People” yang bercerita tentang biografi Steve Jobs.
Steve Jobs, lahir dari seorang ayah bernama Abdulfattah Jandali (Seorang profesor ilmu politik) dan ibunya Joanne Simpson (Seorang patalog bahasa wicara). Ia kemudian diadopsi oleh Paul dan Clara, yang kemudian mengganti nama Abdul Latief Jandali menjadi Steven Paul yang kemudian dikenal dengan nama Steve Jobs. |
| Syaluna Kanantya Andary | 8BIL2 | 23 | Debu
Ratu dan teman-temannya ingin pergi ke Bandung dengan kereta api. Mereka datang ke stasiun pagi-pagi dan masuk ke gerbong yang sepi. Mereka menikmati bekal sebelum tidur, tapi sebelum menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh mereka terantuk sandaran kursi di depan mereka. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks berpegangan tangan karena terkejut. Nighsih terlihat dingin, membeku, matanya menghitam, dan terdengar tulang retak. Suara langkah cepat mendekati mereka dan semuanya hilang seperti debu. |
| Syesha Safira Sudradjat | 8BIL2 | 24 | Debu Aku, Ningsih, dan Rendi akan berlibur ke Bandung. Kami menggunakan kereta yang berangkat pada pukul 2.30 pagi. Aku dan Rendi pergi bersama karena kebetulan rumah kami berdekatan. Tapi, Ningsih ia pergi sendiri karena rumahnya jauh dari stasiun. Yang pada akhirnya ia sampai di menit-menit terakhir. Stasiun sepi, namun lorong kereta melebihi sepinya. Di kereta kami memakan makanan yang disediakan ibunya Ningsih. Tapi, tiba-tiba keretanya berhenti dan lampunya mati. Lalu, tiba-tiba ada debu dari belakang kami dan jendela-jendela berembun dingin. Ningsih memegang tanganku dan Rendi bersembunyi di jaketku. Ningsih menjadi kaku. Aku pun memejamkan mataku dan merapatkan diri dengan Rendi. Ada suara derap langkah melewati. Sampai akhirnya semuanya menghilang seperti debu, dan hanya kami merunduk ketakutan di tengah rel kereta. |
| Brian Rafi Satria | 8C | 3 | Debu
Setelah masa PSBB berakhir, tiga orang sahabat berencana untuk berlibur ke Bandung. Mereka memutuskan naik kereta api paling pagi, pulul 2.30 dini hari. Saat kereta mulai bergerak dan mereka hendak sarapan tiba-tiba kereta berhenti mendadak sampai mereka terantuk sandaran kursi di depan mereka. Asap putih muncul dari gerbong belakang dan jendela kereta dipenuhi embun dingin seperti es. Namun mereka terkejut ketika melihat ke arah Ningsih yang matanya berubah menghitam dan retak-retak diikuti suara leher dan kepalanya yang kaku seperti patah. Dan sekejap semuanya menghilang menjadi debu. Apakah gerangan yang telah terjadi ? |
| Denarya Rafif Rochalib | 8C | 7 | Setelah masa pembatasan sosial,aku dan temanku berkeputusan untuk pergi berwisata ke Bandung. Kudengar disana kotanya sudah menjadi ramai dan perjalanan ke luar kota menjadi lebih longgar. Kami setuju untuk pergi menggunakan kereta. Kami kebetulan dapat jadwal berangkat kereta jam setengah tiga pagi. Kami sengaja memilih jadwal ini untuk menikmati Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat bersamaan karena rumah kita berdekatan, hanya Ningsih yang rumahnya cukup jauh karena lokasinya di daerah tepi kota Jakarta. Setelah Ningsih meminta maaf karena keterlambatannya, perjalanan kita pun berlanjut. Gerbong di kereta sangat sepi karena kita berangkat terlalu pagi. Kami menikmati bekal disiapkan oleh ibu Ningsih yang berupa potongan ayam tepung. Tiba-tiba, lampu-lampu kereta api pun mati perlahan-lahan. Kita pun refleks dengan saling memegang tangan. Aku pun mengalihkan mataku ke Ningsih yang tangannya basah dan dingin. Kukira tangannya basah karena ia ketakutan. Ternyata, sejenis embum masuk ke dalam gerbong. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya ke jaketku saking dinginnya. Lengan yang tadinya basah rasanya sekarang seakan-akan membeku. Setelah mengalihkan mataku ke ningsih lagi. Matanya hitam dan beretak-retak seperti luka bakar. Aku juga merasa sebuah tangan memegangku dengan erat. Aku mencoba untuk melepaskannya tetapi gagal. Aku tak berani membuka mata setelah mendengar sebuah suara tulang patah. |
| Diandra Qimira | 8C | 8 | Mereka memutuskan pergi ke Bandung dengan kereta. Mereka pergi pukul dua tiga puluh pagi karena ingin menikmati tanah Bandung lebih lama. Stasiun yang biasanya ramai, terasa dingin dari biasanya. Gerbong lebih sepi dari stasiun tadi. Saat sedan makan, tiba-tiba kereta berhenti dan lampu kereta mati perlahan. Mereka terkejut dan panik. Asap putih menyruak dari gerbong belakang, jendea kereta dipenuhi embun dingin. Suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah mereka diikuti kabut lebat dan udara dingin. Sampai semuanya hilang sepeti deb, hanya mereka yang menunduk ketakutan di tengah rel kerreta yang bergetar. |
| Feyla maharani putri | 8C | 9 | Aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata ke Bandung kami pergi kesana dengan kereta. Kami sengaja memilih jadwal pemberangkatan kereta yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan rendi berangkat menuju stasiun bersama, ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih. Tiba tiba kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami, lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan. Terlihat ningsih lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin panik. Asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta dipenuhi embun dingin. Rendi menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan ningsih semakin dingin, matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar. Lalu suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan ditengah rel kereta yang bergetar. |
| Jurrien Rafael A | 8C | 11 | Bapa Ola dan istrinya menatap mereka dengan wajah yang sulit untuk dilukiskan, kesedihan dan air mata terlihat di wajah Mama Nika Dana. Puluhan petani mengelilingi sawah mereka sambil duduk tepekur dengan wajah kosong. Barangkali nama kebun itu tidak tercantum di dalam peta dunia, barangkali juga dia hanya berada dalam kenangan yang membatu, mengingatkan siapa saja yang pernah datang ke sana, selalu rindu untuk kembali. |
| Kimya Aisya Ali | 8C | 14 | Laura yang dikira nakal sama ibunya ternyata pintar tipu daya. |
| Nathania Paramitha Rafeni Putri | 8C | 20 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Rakha byantara nadif | 8C | 24 | Ciri-ciri hewan |
| Al Fathir sangkara anindya | 8D | 1 | Anak yang bolos mengaji |
| Audy Kharisma | 8D | 2 | Tentang sekelompok anak yang akan berlibur, tetapi ada kejadian yang tidak diduga saat berada di kereta, semua berubah menjadi debu dan ningsih—salah satu teman—berubah menjadi seseorang yang menyeramkan. |
| avissa sitti ammabel | 8D | 3 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Ayzar Hisyam Raditya | 8D | 4 | anak anak yg bolos |
| Cahaya Danika Permana | 8D | 5 | Debu
Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku |
| Calista Belva Kaishaura | 8D | 6 | Aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama.Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar.Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Denaia Nurishthina Rahim | 8D | 7 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama.Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket terdengar, mereka pun memasuki gerbong. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar |
| fahrisa putri fahri | 8D | 9 | ebun itu bernama Basagoka, berada di dusun Boto, masuk ke dalam lingkungan Desa Labalimut, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Di Boto dan kebun Basagoka ada ingatan terpendam kuat tentang kisah masa lalu dari sepasang suami istri penggarap ladang dengan tanah warisan leluhur secara turun-temurun.Siapa sesungguhnya yang memiliki kebun Basagoka, masih menjadi tanda-tanya, namun ada cerita yang dapat dipercaya, kebun itu milik para pemangku ulayat Lamarotok dan Lefketoj, dua kepala suku besar di Dusun Boto. Tanah ulayat inilah yang menjadi tumpuan hidup sehari-hari pasangan suami-istri yaitu Bapa Ola Dana dan istrinya Mama Nika Dana. Kebun yang oleh orang NTT disebut mamar itu telah menjadi rumah kedua bagi merekaBapa Ola panik, berada di tengah kebun yang luas, dengan dikelilingi areal pertanian lodok lingko yang mirip jari-jari sepeda itu, sungguh telah membuatnya bagai berada di hutan gelap gulita. Di pemikirannya yang lugu, dia tak pernah memprediksi kapan waktunya sang istri akan melahirkan.Semua bahan-bahan itu ada di kebunnya, namun bagaimana cara mengeluarkan bayi yang mendesak untuk keluar dari rahim ibunyaMusim kemarau tiba. Ketika si bayi berusia empat puluh hari, Bapa Ola mengajak istri dan putranya ke kebun mereka. Perkiraannya tanaman berupa ubi, jagung dan ketela pohon sudah bisa dipanen dan dapat dibawa ke Boto.Bapa Ola memandang istrinya sejenak. Tak ada bukti yang bisa mereka suguhkan. Selama puluhan tahun mereka menggarap tanah itu, mereka melakukannya dengan kepercayaan penuh pada leluhur bahwa tanah itu adalah warisan untuk mereka. Kini tanaman jagung, ubi dan ketela pohon, gugur tak berdaya. Tanaman itu ditebang dengan kekuatan penuh. Jagung-jagung itu sudah siap panen, juga ubi dan ketela. Pohon kehidupan itu luruh tak berdaya ke bumi. Bersama tangis yang masih tersisa, pasangan suami istri ini tak bisa berkata-kata lagi. Mereka kembali ke Boto dengan harapan yang hilang. Hutan lebat di hadapan kembali |
| Gede Radit Ariyudana | 8D | 10 | Komi dan teman-temannya sekarang sudah kelas 2 SMA. Karena pergantian kelas Komi harus beradaptasi lagi dengan teman teman barunya |
| Hana Apsariningtyas Puspito | 8D | 11 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata ke Bandung. Kita naik kereta untuk menuju ke Bandung. Saat berada di kereta, tiba-tiba kereta berhenti dan semua lampu mati. Seketika suasananya jadi dingin sunyi, lalu tiba-tiba mata salah satu temen aku menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku hanya bisa menutup mata dan ketakutan. Kemudian, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. |
| Malik Rifat Arazky | 8D | 14 | Why is the brain so mighty? It has billions of neurons (nerve cells) to carry out its commands. Without the brain, you would not be able to think, feel, move, remember, or do all the things that make you the special person you are |
| Nicky Farlie Natalino Alfonso | 8D | 19 | Debu |
| Prabu Kusuma Abdy | 8D | 20 | Seorang anak yang bolos dan ditegur setiap saat oleh orang tua nya, dan orangtua nya pun angkat tangan |
| Rafid Izza Tanzila | 8D | 23 | 3 orang anak ingin pergi bertamasya ke Bandung dengan menggunakan kereta. Namun, saat di perjalanan kereta tersebut mengalami kecelakaan. |
| Rana Zhahirah | 8D | 24 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Rania Anindita | 8D | 25 | Debu Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. |
| Shifa Zerlita Abadi | 8D | 26 | Tanah Warisan Leluhur Kisah itu terus bergulir tanpa terputus oleh waktu. Siapa sesungguhnya yang memiliki kebun Basagoka, masih menjadi tanda-tanya, namun ada cerita yang dapat dipercaya, kebun itu milik para pemangku ulayat Lamarotok dan Lefketo, dua kepala suku besar di Dusun Boto. Tanah ulayat inilah yang menjadi tumpuan hidup sehari-hari pasangan suami-istri yaitu Bapa Ola Dana dan istrinya Mama Nika Dana.Tak jauh dari sana, terdapat lahan tidur yang diberi nama Man Giok, lahan itu masuk dalam kawasan Basagoka dan Dusun Feror, di sana ada juga beberapa lahan yang menjadi milik Bapa Ola Dana. Penduduk setempat membenarkan kalau lahan itu memang sah miliknya.Tanah telah menjadi napas kehidupan bagi penduduk Boto. Mereka bisa seminggu tidak pulang ke rumah, tidur di ladang di dalam rumah bebak: rumah tradisional khas NTT yang berpagar dan beratap daun lontar dengan fondasi dari tanah dan tiang bambu.Suatu hari di bulan terakhir untuk masanya melahirkan, istri Bapa Ola, Nika Dana merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.Bapa Ola panik, berada di tengah kebun yang luas, Di pemikirannya yang lugu, dia tak pernah memprediksi kapan waktunya sang istri akan melahirkan. Dia hanya seorang laki-laki dengan pendidikan yang tidak tamat sekolah dasar, yang ia ingat, ketika ibunya melahirkan adiknya, untuk memotong tali pusar hanya dengan menggunakan irisan bambu yang tajamAlur perjalanan ke tempat perkebunan Bapa Johanis Kerung tak semudah yang dibayangkan. Hutan lebat, ular cobra, dan binatang buas lainnya, menjadi teman terdekat yang harus disikapi dengan segenap kesabaran dan kewaspadaan tingkat tinggi. Tapi untungnya jalur ini telah biasa dilaluinyakemudian membuat tandu, membawa Mama Nika Dana ke Boto, mencari bidan melahirkan untuk melihat kondisinya.Musim kemarau tiba. Ketika si bayi berusia empat puluh hari, Bapa Ola mengajak istri dan putranya ke kebun mereka. Perkiraannya tanaman berupa ubi, jagung dan ketela pohon sudah bisa dipanen dan dapat dibawa ke Boto. Mereka kembali menyusuri hutan yang ada di tepi dusun, perjalanan dengan menerabas hutan lebat yang gelap terus dilakukan hingga memasuki Desa Labalimut.Bapa Ola dan istrinya menatap mereka dengan wajah yang sulit untuk dilukiskan, kesedihan dan air mata terlihat di wajah Mama Nika Dana. Bapa Ola memandang istrinya sejenak. Tak ada bukti yang bisa mereka suguhkan. Selama puluhan tahun mereka menggarap tanah itu, mereka melakukannya dengan kepercayaan penuh pada leluhur bahwa tanah itu adalah warisan untuk mereka. akan mereka lalui. Bayi yang ada di punggung ibunya, terlelap dalam keranjang yang terbuat dari daun lontar. Bayi itu adalah aku yang selalu mendengarkan kisah orang tuaku melalui bibir tua merekaKedua orangtuaku beralih profesi menjadi nelayan penangkap ikan di Desa Boto, Nagawutun, Lembata Nusa Tenggara Timur. |
| Arya Bima Arundati | 8E | 1 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Asha Padma R. Tripradopo | 8E | 2 | menceritakan tentang bolos |
| Aura Khaila | 8E | 3 | jangan pernah melawan orang tua |
| Ayuthaya Andriana | 8E | 4 | Bertengkar boleh tapi tidak boleh melebihi batas |
| Daniella Zahraa Jatnika | 8E | 7 | Tanah warisan leluhur |
| Dhaamir Rasyid Resmana | 8E | 8 | Tanah Warisan Leluhur |
| Farrel farand fathiyyah | 8E | 9 | Dua nama menonjol sebagai arsitek Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia. Pertama, Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal 1808-1811 ketika Belanda dikuasai oleh Perancis, dan, kedua, Letnan Inggris Stamford Raffles, Gubernur Jenderal 1811-1816 ketika Jawa dikuasai Inggris. Daendels mereorganisasi pemerintahan kolonial pusat dan daerah dengan membagi pulau Jawa dalam distrik (yang juga dikenal sebagai residensi) yang dipimpin oleh seorang pegawai negeri sipil Eropa – yang disebutkan residen – yang secara langsung merupakan bawahan dari – dan harus melapor kepada – Gubernur Jenderal di Batavia. Para residen ini bertanggung jawab atas berbagai hal di residensi mereka, termasuk masalah hukum dan organisasi pertanian. |
| Felly Pricilla | 8E | 10 | tokoh aku dan rendi dan juga ningsih pergi untuk wisata ke bandung. mereka berangkat pagi. saat memasuki kereta hal-hal janggal terjadi. pada akhirnya saat kejanggalan itu lewat seperti debu, mereka terbangun di rel kereta yang bergetar. |
| Hakeem Ali Rose | 8E | 11 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Harashta Jannis Andriansyah | 8E | 12 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini. Stasiunnya terasa lebih dingin. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Hylmi Ghanim Suryo Wicaksono | 8E | 13 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Lengan ningsih basah dan dingin mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Juwayria Zafnah | 8E | 14 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Namira Aishagita Kusumahadilaga | 8E | 17 | Debu
Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Raden Annisa Mizani Syafina | 8E | 18 | Suatu hari, ada huru-hara di depan Surau. Beberapa anak-anak berkelahi sampai membuat kaca jendela pecah. Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. Ada-ada saja alasan ia absen mengaji. Terkadang ia pura-pura sakit. Pernah sekali ia bersembunyi di bawah tempat tidurnya, sampai ibunya mengira ia hilang, lain waktu ia pergi ke rumah neneknya dan tidak pulang semalaman, sampai ibunya harus menjemputnya pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Bapaknya sendiri sudah angkat tangan dengan kelakuan putrinya. Walaupun sudah di hukum beberapa kali, Laura tampaknya tidak memperlihatkan tanda-tanda akan jera. Bapak Laura akhirnya sudah tidak ambil pusing dengan tingkah anaknya, ia akan acuh tak acuh membiarkan Laura membolos begitu saja. Berbeda dengan ibunya, setiap hari ia melakukan berbagai cara agar anaknya mau kembali mengaji, sampai membuat Bapaknya jengah melihat kelakuan istrinya. Ia bertanya-tanya apakah memang benar agama menjadi panutan hidup setiap orang dalam bertingkah. Jika memang begitu, kenapa dirinya dan rekan kerjanya yang notabenenya anak pesantren dan mondok bertahun-tahun tetap melakukan banyak hal menyimpang. Bukannya tidak tahu itu salah, tetapi ia tidak tahu cara mengendalikan atau bahkan menghentikannya. Terlebih lagi mereka berdua melakukannya secara sadar tanpa rasa takut atau berdosa. Suatu hari, ada huru hara di depan Surau. Beberapa anak-anak berkelahi sampai membuat kaca jendela pecah. Lalu Kiai dan Bu Haji memanggil semua para santri. Tidak ada yang mau mengaku siapa yang memecahkan kaca. Anak-anak bandel itu saling lempar kesalahan. Mungkin anak-anak ini belajar trik dari para elite berdasi dan pejabat tinggi, saling lempar kesalahan ke sana sini, merasa paling benar sendiri lalu cuci tangan. Atau mungkin para elite yang seperti anak kecil, Entahlah. Sungguh ia merasa putus asa membujuk anak perempuannya. Sebagai ibu, ia merasa gagal dibandingkan dengan ibu-ibu lain tetangganya. Walaupun latar belakang pendidikan mereka masih sangat minim, nyatanya mereka lebih berhasil membujuk anak-anak mereka yang membolos dari pada ia dan suaminya yang punya latar belakang pendidikannya yang baik. |
| Rayesha Reyhan Rizqueena | 8E | 20 | Aku, Rendi, dan Ningsih ingin pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata. Aku dan Rendi menuju stasiun bersama, karena rumah mereka dekat, namun ningsih agak jauh. Ningsih datang diakhir-akhir keberangkatan. Akhirnya mereka menaiki kereta, sambil memakan bekal dari ibunya ningsih. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut, kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Rei Arden A.D | 8E | 21 | Membaca buku The World Fastest Engine hlm 20 – 30 |
| Renandya Malicca C | 8E | 22 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Rizky Ramadhan Adhittama | 8E | 24 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, |
| Satria Jamie Ardiya | 8E | 25 | Suatu hari, ada huru-hara di depan Surau. Beberapa anak-anak berkelahi sampai membuat kaca jendela pecah. Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. Ada-ada saja alasan ia absen mengaji. Terkadang ia pura-pura sakit. Pernah sekali ia bersembunyi di bawah tempat tidurnya, sampai ibunya mengira ia hilang, lain waktu ia pergi ke rumah neneknya dan tidak pulang semalaman, sampai ibunya harus menjemputnya pagi-pagi untuk berangkat sekolah. |
| Suhandhika Pratama W | 8E | 26 | Bolos |
| Sulthan Sagara Abdurrahman | 8E | 27 | Suatu hari, ada huru-hara di depan Surau. Beberapa anak-anak berkelahi sampai membuat kaca jendela pecah. Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. Ada-ada saja alasan ia absen mengaji. Terkadang ia pura-pura sakit. Pernah sekali ia bersembunyi di bawah tempat tidurnya, sampai ibunya mengira ia hilang, lain waktu ia pergi ke rumah neneknya dan tidak pulang semalaman, sampai ibunya harus menjemputnya pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Bapaknya sendiri sudah angkat tangan dengan kelakuan putrinya. Walaupun sudah di hukum beberapa kali, Laura tampaknya tidak memperlihatkan tanda-tanda akan jera. Bapak Laura akhirnya sudah tidak ambil pusing dengan tingkah anaknya, ia akan acuh tak acuh membiarkan Laura membolos begitu saja. Berbeda dengan ibunya, setiap hari ia melakukan berbagai cara agar anaknya mau kembali mengaji, sampai membuat Bapaknya jengah melihat kelakuan istrinya. ”Sudah biarkan saja semaunya dia, Bu. Yang penting dia masih mau bersekolah.” ”Mau jadi apa anak kita kalau tidak punya pendidikan agama, Pak? Agama sebagai fondasi agar kelakuan anak kita nanti terarah. Percuma nanti anak kita sukses menjadi pejabat atau menjadi para elite kalau tidak punya pegangan agama, nanti dia akan berbuat semena-mena pada sesamanya.” ”Sekarang para pejabat dan para elite saja tidak peduli dengan agama, Bu.” ”Husss! Jangan bilang begitu Pak, nanti ada yang dengar.” Tambah istrinya. ”Memang begitu adanya, Bu. Sekarang banyak pejabat mencari uang dengan cara haram, contohnya saja korupsi di mana-mana, saling tuduh sana sini dan saling menghancurkan sesamanya demi kepentingan pribadi dan banyak lagi. Jika memang benar, agama adalah dasar moralitas manusia, tentu mereka tidak melakukannya. Tampaknya pelajaran agama sudah tidak berfungsi lagi untuk zaman sekarang, Bu.” |
| Alvin Andrianto Irawan | 8F | 1 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Mereka pun dateng lebih awal dan Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Alya Hana | 8F | 2 | Tiga orang teman yang mengalami kejadian menyeramkan di sebuah kereta. |
| Anindita Abdiyah Muhshi | 8F | 3 | Debu Suatu hari, ada seseorang yang ingin berwisata ke Bandung bersama kedua temannya, yaitu Rendi dan Ningsih. Mereka pergi dengan kereta karena tidak ada yang dapat membawa kendaraan. Ia dan Rendi berangkat bersama karena rumah mereka yang berdekatan, sedangkan Ningsih berangkat sendiri karena rumahnya agak jauh. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba, kereta berhenti dan lampu-lampu kereta mati perlahan. Asap putih mulai menyeruak dari gerbang belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun. Mereka bertiga sangat panik. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah mereka, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya mereka yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Dimas Zaki Maulana | 8F | 8 | Crayon Shin Chan |
| Faira Fitriyani Djajasasmita | 8F | 9 | Pencerita, Rendi, dan Ningsih sedang dalam perjalanan menuju Bandung dengan kereta pada jam 02.30 pagi. Saat itu, susasana sangat sepi. Hanya ada mereka dan seorang Ibu didekat pintu Toilet. Tiba tiba, Lampu kereta mati dengan perlahan,kami langsung berpegangan tangan karena terkejut. Saat aku melihat Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin karena panik. Asap putih mulai masuk dari gerbong belakang,jendela kereta yang dipenuhi embun, persis seperti es. Rendi sangat ketakutan. Lenganku semakin dingin seperti akan membeku. Saat aku kembali melihat ke arah Ningsih, matanya menghitam retak-retak seperti bekas luka bakar, aku tidak bisa melepaskan lengannya. Kepalanya menengok dengan kaku, juga terdengar bunyi tulang yang patah darinya. Aku tidak berani membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Suara langkah kaki terdengar begitu cepat ke arah kami dan diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. |
| Keisha Callista Putri | 8F | 12 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. |
| Keisha Callista Putri | 8F | 12 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. |
| Maylika Tiarani Putri | 8F | 13 | Tanah warisan leluhur |
| Mohammad Fadelis Jibril | 8F | 14 | Ringkasan bacaan Debu Penulis dan teman-temannya memutuskan untuk pergi ke bandung sebagai destinasi wisata mereka mereka pergi kesana dengan menggunakan kereta. |
| Muhammad Hilmy Wiratama | 8F | 15 | Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. |
| Nadia Tanisha Ariana | 8F | 16 | Bolos. Tentang seorang anak yang bernama Laura. Ia sering bolos mengaji walaupun ibunya selalu mengingatkan dia untuk ikut mengaji |
| Raden Raissa Ardine Fakhirah | 8F | 20 | Memperkenalkan tentang keluarga Sastra. Ia adalah anak tengah yang mempunyai 3 kakak dan 3 adik. Menceritakan tentang keseharian keluarganya yang ramai. |
| Rafid Zia Kurniawan | 8F | 21 | Elijah dan Lail merupakan seorang paramedis professional yang sedang bertugas di salah satu rumah sakit di kota |
| Revany Dealova Soekasno Putri | 8F | 23 | Aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. |
| Safira Auliya Hermawan | 8F | 26 | Laura,dia dulunya anak yang baik dan di contoh oleh teman temanny,tetap suatu ketika dia bolos,bolos mengaji,ibunya sudah pusing untuk memberi tau Laura,sedangkan ayahnya sudah angkat tangan dengan anaknya yang tidak mau mengaji,ibunya khawatir bila anaknya tidak mau belajar agama karna itu fondasi di masa depan,ibunya selalu membujuk Laura untuk mengaji tapi alasannya aneh aneh,seperti tidak mau praktik sholat. |
| Allisya Tristan Putri Purnomo | 9A | 1 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Tania Janesya Hasan | 9A | 25 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat”“Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Haidar Fatih Muzhaffar | 9BBIL1 | 13 | Cerita ini menceritakan tentang kewarisan luhur |
| Keisya Putri Rachmagita | 9BBIL1 | 14 | Debu adalah partikel yang berukuran sangat kecil yang dibawa oleh udara |
| Ryuchi Naiya Kamil Rosadi | 9BBIL1 | 24 | Karakter aku ingin pergi bersama Rendi dan Ningsih ke Bandung. Mereka menggunakan kereta. Kereta yang mereka naiki pergi sangat dini hari. Saat mereka sedang makan, kereta dengan tiba-tiba berhenti, dan uap putih dingin masuk dari gerbong belakang. Mereka ketakutan, dan pada akhirnya mereka merapat ketakutan di rel kereta. |
| Tasya Salsabila | 9BBIL1 | 27 | Debu merupakan cerita tentang karakter “aku” yang mengira dia bertemu dengan temannya dia di tempat wisata kereta api tetapi ternyata teman2nya bukan makhluk hidup, melainkan makhluk lain yang mengerikan yang lalu pada terbawa menjadi debu. |
| Alisha Sukma Widyadhana Putri | 9BIL2 | 2 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata ke Bandung dan memesan tiket pukul 23.00 agar bisa lebih lama menikmati perjalanan di Bandung. Saat masuk ke kereta, terasa sepi dan hanya ada aku dan temanku bersama ibu-ibu yang duduk di dekat toilet. Aku dan temanku mereka baru saja akan memakan bekal dari ibu Ningsih, namun kereta tiba-tiba berhenti dan lampunya mati. Begitu kulihat mata Ningsih berubah menjadi hitam dan begitu mereka sadar, mereka hanya bertiga di kereta. |
| Casaluna de Luzia | 9BIL2 | 7 | Setelah PSBB, aku, Rendi dan Ningsih memutuskan untuk pergi berlibur ke Bandung menggunakan kereta, saat itu kami memesan kereta pukul 23.00, supaya dapat menikmati Bandung lebih lama. Kereta sangatlah sepi, hanya ada kami dan ibu-ibu yang duduk di dekat toilet. Lalu kami memakan bekal yang diberikan dari ibunya Ningsih. Tiba-tiba saja kereta berhenti dan lampunya mulai mati secara perlahan, aku menengok ke sebelah, lengan Ningsih basah dan dingin, tak lama kemudian mata Ningsih berubah menjadi hitam dan menoleh ke arahku dengan bunyi tulangnya. Sampai kami tersadar, bahwa hanya kami yang terduduk dengan ketakutan di kereta ini. |
| Farah Amelia Sukma | 9BIL2 | 9 | Setelah masa PSBB, aku dan temanku ingin pergi berwisata ke Bandung dan dijadwalkan naik kereta pukul dua tiga puluh pagi. Perjalanan mereka berlanjut, dan gerbong kereta terasa sepi, hanya ada seorang duduk dekat pintu toilet. Tiba-tiba kereta berhenti, lampu kereta mati dengan perlahan dan kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandangan menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin. Ada asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang. Lengan yang basah kini semakin dingin dan seperti membeku. Mata Ningsih terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, kepalanya menengok dengan kaku dan terdengar bunyi tulang patah di dalamnya. Suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Semuanya hilang seperti debu, tersisa kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Kazio Raban Brano I. | 9BIL2 | 14 | Seseorang dengan teman-temannya mengalami kecelakaan |
| Made Diasty Kunthi Maharani | 9BIL2 | 16 | Pengarang cerita menceritakan sebuah kisah tentang si “aku” dan teman-temannya. Suatu hari mereka memutuskan untuk pergi liburan ke Bandung bersama. Karena tidak ada salah satu dari mereka yang mengendarai kendaraan, mereka memutuskan untuk berangkat menggunanakan kereta. Mereka memesan tiket kereta yang berangkat pada pukul dua tiga puluh pagi agar bisa menikmati suasana kota Bandung lebih lama. Di hari keberangkatan mereka semua sudah berkumpul kecuali Ningsih. Hal tersebut dikarenakan oleh rumah Ningsih berada di tepi kota Jakarta. Setelah semua lengkap, mereka langsung masuk ke dalam gerbong kereta. Mereka kemudian menikmati bekal yang sudah dibuatkan oleh Ibunya Ningsih. Ketika baru ingin menyuapkan makanannya, kereta tiba-tiba saja berhenti membuat mereka terantuk ke depan. Lampu-lampu kereta tiba-tiba mati dan asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang. Si “aku” menengok kearah Ningsih dan melihat lengannya sedikit basah dan dingin, ia berpikiran positif bahwa Ningsih sedang ketakutan. Sedangkan Rendi sudah menelungkupkan kepalanya dibalik jaket “aku”. Si “aku” merasakan lengan Ningsih yang sebelumnya dingin menjadi nyaris membeku. Ia kemudian kembali menengok untuk melihat keadaan Ningsih, namun yang ia lihat adalah mata Ningsih yang menghitam terlihat retak-retak seperti luka bakar. “aku” berusaha melepaskan tangannya namun tidak berhasil. Kepala Ningsih tiba-tiba menengok kaku menimbulkan bunyi tulang yang patah di dalamnya. “aku” yang terlanjur takut langsung merapatkan tubuhnya dengan Rendi hingga suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Namun kemudian semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Rama Daniswara | 9BIL2 | 22 | Beberapa anak-anak berkelahi sampai membuat kaca jendela pecah. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. « Yang penting dia masih mau bersekolah». Agama sebagai fondasi agar kelakuan anak kita nanti terarah.
« Percuma nanti anak kita sukses menjadi pejabat atau menjadi para elite kalau tidak punya pegangan agama, nanti dia akan berbuat semena-mena pada sesamanya». Jangan bilang begitu Pak, nanti ada yang dengar.» Tambah istrinya. «««Astagfirullah Pak, jangan berbicara melantur begitu, kita ingin anak kita menjadi sukses, berguna, dan tetap menjadi anak salehah. » Kalau sudah begitu, bapaknya hanya melengos, meninggalkan istrinya yang sedang berbicara panjang lebar. » Makna agama bagi dirinya kini memang sangat kabur, kesehariannya sebagai perangkat desa terkadang membuatnya kebingungan membedakan yang benar dan yang salah. Jika memang begitu, kenapa dirinya dan rekan kerjanya yang notabenenya anak pesantren dan mondok bertahun-tahun tetap melakukan banyak hal menyimpang. Jika pegawai kecil seperti dirinya dan rekannya saja sudah melakukan korupsi kecilkecilan, apalagi pejabat besar? Berapa uang yang mereka kantongi kira-kira? pikirnya suatu ketika. Terkadang ia mencari pembenaran atas tindakannya yang salah. Ia akan berkata kepada dirinya sendiri bahwa di luar sana banyak yang mengambil hak rakyat berjuta-juta kali lipat, bahkan mungkin lebih. Walaupun pelajaran agama memberi tahu ia akan dibakar di dalam api neraka yang panas, sebesar apa pun hak orang lain yang ia ambil, sungguh dia tidak lagi peduli. Namun, ia tetap ingin putrinya menjadi anak yang lebih baik darinya. Ia berharap Laura tumbuh menjadi gadis yang pintar dan dan berbudi luhur serta selalu taat perintahperintah agama untuk menghindari hal-hal yang menyesatkan hidupnya. Oleh karena itu, ia mengajari hal-hal yang baik kepada Laura sehingga Laura pun tumbuh menajadi gadis kecil yang cerdas dan baik prilakunya. «Laura memang sedikit nakal akhir-akhir ini Bu, dulu ia murid panutan bagi temantemannya karena ia anak yang baik,» kata Bu Haji sambil menatap ibu Laura prihatin. Ibu Laura hanya memijat-mijat keningnya mencoba melepaskan beban yang membuat kepalanya pusing. Awalnya, Laura memang anak yang baik dan penurut. Ia anak yang cerdas dan tidak pernah absen mengaji. Laura memang sedikit nakal akhir-akhir ini Bu, dulu ia murid panutan bagi temantemannya karena ia anak yang baik. Lambat laun perangainya mulai diikuti anak-anak lainya. Maka, terbentuklah geng begundal yang dipimpin Laura, yang selalu membuat naik darah Bu Haji. Tidak ada yang mau mengaku siapa yang memecahkan kaca. Anak-anak bandel itu saling lempar kesalahan. Mungkin anak-anak ini belajar trik dari para elite berdasi dan pejabat tinggi, saling lempar kesalahan ke sana sini, merasa paling benar sendiri lalu cuci tangan. Atau mungkin para elite yang seperti anak kecil, Entahlah. Oleh karena semua kekacauan yang terjadi, Bu Haji akhirnya mengancam akan menghukum semua santri jika tidak ada yang mengaku. Tentu saja, di antara mereka selalu ada penjilat yang berkhianat, mengadu kepada Bu Haji bahwa Laura dan temantemanya yang memecahkan kaca. Sama seperti orang-orang dewasa, selalu ada orang yang cari muka demi mendapat sanjungan. Begitulah memang anak-anak adalah peniru yang baik. «Anak-anak begundal itu memang tidak ada jeranya,» kata Bu Haji. «Sudahlah Bu, namanya juga anak-anak. Apalagi mereka anak-anak perempuan. «Sudahlah Bu, anak-anak sekarang berbeda zaman dengan kita dulu. Jika dulu kita akan jera dengan hukuman, anak-anak sekarang malah akan semakin bandel». Bu Haji hanya menarik napas panjang menghadapi suaminya yang terlalu bijaksana membela anak-anak nakal itu. Ia kemudian akan melepaskan begitu saja anak-anak itu walau dengan hati yang kesal. Walau sudah bebas dari hukuman, anak-anak itu bukannya jera, melainkan satu per satu mulai sering membolos mengaji. Para orangtua akhirnya turun tangan menghukum anak-anak nakal itu. Sampai sekarang Laura satu-satunya anak yang tidak mau melangkahkan kakinya ke «Laura sayang, ayo kita mengaji, nanti Mama belikan hadiah untuk Laura». «Laura tidak mau pergi mengaji, Ma». «Karena Laura tidak mau praktik shalat, Ma» «Lho kenapa, Kiai akan ngajarin shalat yang benar, sayang». Sejak dulu, hubungan mertua dan menantu memang selalu punya jarak yang sangat rumit. Sungguh ia merasa putus asa membujuk anak perempuannya. Walaupun latar belakang pendidikan mereka masih sangat minim, nyatanya mereka lebih berhasil membujuk anak-anak mereka yang membolos dari pada ia dan suaminya yang punya latar belakang pendidikannya yang baik. «Iya Bu, saya sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi agar anak itu kembali megaji». «Coba Ibu tanya apa yang terjadi kepadanya, mungkin dia bertengkar dengan temanya atau sesuatu terjadi kepadanya. Kita sebagai orangtua kadang kurang peka terhadap kenakalan-kenakalan anak kita, Bu». «Orangtua terkadang sering menuntut anaknya ini itu tanpa mau peduli apa yang terjadi kepada anaknya,» jelas tetangganya yang lain. «Namanya anak-anak, Bu, dulu Ratih saat usianya seperti Laura juga begitu Bu. Hatihati Bu, anak-anak sekarang sangat pintar dan penuh tipu daya. Semua anak-anak bilang begitu kepada orangtuanya, katanya tidak mau praktik shalat karena Kiai meraba-raba dada dan pinggul mereka saat membetulkan ruku dan sujud. Anak zaman sekarang memang pintar sekali mencari alasan. Mereka kerap kali berbohong hanya karena mereka malas mengaji, Bu.» tambah tetangganya yang lain. |
| Natasya Adelia | 9C | 16 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami.
“Iyamemang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku. |
| Nayara Annaba Zalikha | 9C | 17 | Menjelaskan tentang struktur cerpen yaitu orientasi, komplikasi, evaluasi, dan resolusi. Serta menerangkan unsur kebahasaan cerpen yaitu kalimat deskriptif, ekspresif, dan majas. Serta terdapat 9 majas. |
| Rhayyhan budhi pramadhi | 9C | 21 | Mantap |
| Rhean Darma | 9C | 22 | Perjalanan di kereta |
| Sheika Zafira | 9C | 24 | seseorang pergi wisata dengan temannya menggunakan kereta namun berakhir semuanya hilang menjadi debu menyisakan dia dengan temannya ketakutan di tengah rel kereta |
| stacia | 9C | 25 | Namanya anak-anak, Bu, dulu Ratih saat usianya seperti Laura juga begitu Bu. Hati- hati Bu, anak-anak sekarang sangat pintar dan penuh tipu daya. Semua anak-anak bilang begitu kepada orangtuanya, katanya tidak mau praktik shalat karena Kiai meraba-raba dada dan pinggul mereka saat membetulkan ruku dan sujud. Tidak mungkin juga Kiai bersikap kurang ajar begitu ya Bu, wong Kiai ilmu agamanya tinggi. anak zaman sekarang memang pintar sekali mencari alasan. Mereka kerap kali berbohong hanya karena mereka malas mengaji, Bu.” tambah tetangganya yang lain. Ibu Laura terenyak mendengar kata-kata tetangganya, tanpa bisa berkata apa-apa ia buru-buru pergi meninggalkan para tetangganya menuju rumah nenek Laura. |
| Ardelia Shafina | 9D | 7 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Namun Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, untung saja kami dapat melanjutkan perjalanannya. Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya.Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Azkia Chaerunnisa | 9D | 9 | Ringkasan bacaan 1 menceritakan tentang Laura yang merupakan anak nakal dan sering bolos mengaji, kelakuan Laura membuat orang tua nya kewalahan dan bingung cara menghadapi dirinya. |
| Keona Azkiya Putri Permadhi | 9D | 16 | menarik |
| Shifra Alyshia Widjaya | 9D | 24 | Setelah masa pembatasan dibuka, ia dan teman-temannya memutuskan untuk pergi berwisata. Pada awalnya saat mereka naik kereta, mereka hanya menikmati makanan yang mereka punya, namun setelah beberapa saat terjadi sesuatu yang aneh. Ningsih terlihat takut, terdapat asap putih di gerbong belakang, dan kereta dipenuhi oleh embun seperti es. Saat itu terjadi mereka merasa takut. Mata ningsih mulai menghitam dan tangannya membeku. Mereka saling merapatkan tubuh dan menutup mata masing-masing hingga semuanya menghilang. |
| venaya zalfaa varisa | 9D | 25 | bolos Beberapa anak-anak berkelahi sampai membuat kaca jendela pecah. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. «Agama sebagai fondasi agar kelakuan anak kita nanti terarah. Percuma nanti anak kita sukses menjadi pejabat atau menjadi para elite kalau tidak punya pegangan agama, nanti dia akan berbuat semena-mena pada sesamanya». Jangan bilang begitu Pak, nanti ada yang dengar.» Tambah istrinya. «« Tampaknya pelajaran agama sudah tidak berfungsi lagi untuk zaman sekarang, Bu.» «Astagfirullah Pak, jangan berbicara melantur begitu, kita ingin anak kita menjadi sukses, berguna, dan tetap menjadi anak salehah. Ucapan adalah doa.» Kalau sudah begitu, bapaknya hanya melengos, meninggalkan istrinya yang sedang berbicara panjang lebar. Makna agama bagi dirinya kini memang sangat kabur, kesehariannya sebagai perangkat desa terkadang membuatnya kebingungan membedakan yang benar dan yang salah. Jika memang begitu, kenapa dirinya dan rekan kerjanya yang notabenenya anak pesantren dan mondok bertahun-tahun tetap melakukan banyak hal menyimpang. Jika pegawai kecil seperti dirinya dan rekannya saja sudah melakukan korupsi kecilkecilan, apalagi pejabat besar? Berapa uang yang mereka kantongi kira-kira? pikirnya suatu ketika. Terkadang ia mencari pembenaran atas tindakannya yang salah. Ia akan berkata kepada dirinya sendiri bahwa di luar sana banyak yang mengambil hak rakyat berjuta-juta kali lipat, bahkan mungkin lebih. Walaupun pelajaran agama memberi tahu ia akan dibakar di dalam api neraka yang panas, sebesar apa pun hak orang lain yang ia ambil, sungguh dia tidak lagi peduli. Namun, ia tetap ingin putrinya menjadi anak yang lebih baik darinya. Ia berharap Laura tumbuh menjadi gadis yang pintar dan dan berbudi luhur serta selalu taat perintahperintah agama untuk menghindari hal-hal yang menyesatkan hidupnya. Oleh karena itu, ia mengajari hal-hal yang baik kepada Laura sehingga Laura pun tumbuh menajadi gadis kecil yang cerdas dan baik prilakunya. «Laura memang sedikit nakal akhir-akhir ini Bu, dulu ia murid panutan bagi temantemannya karena ia anak yang baik,» kata Bu Haji sambil menatap ibu Laura prihatin. Ibu Laura hanya memijat-mijat keningnya mencoba melepaskan beban yang membuat kepalanya pusing. Awalnya, Laura memang anak yang baik dan penurut. Ia anak yang cerdas dan tidak pernah absen mengaji. |
| Ardisa Kanani Amanna | 9E | 5 | menceritakan rendi dan temat tamannya yang naik kereta tetapi saat masuk kereta ada kejadian aneh, udara terada dingin semuanya seperti membeku, ningsih pun mulai retak retak dan mereka ketakutan |
| Medina Rahma F.W | 9E | 15 | anak-anak yang berkelahi sampai membuat salah satu kaca jendela sekolah pecah |
| Muhammad Hasyim Rasyid Asytari | 9E | 19 | mereka pergi wisata menuju Bandung, mereka pergi menggunakan kereta. ketika di stasiun, Ningsih datang telat. Setelah itu perjalanan berlanjut. Ketika sedang jalan, kereta tiba2 berhenti dan lampu2 kereta mati. Ningsih tiba2 nyaris menjadi seperti membeku dan matany menghitam. Lalu ada suara langkah cepat ke arah mereka diikuti kabut lebat dan udara dingin. Lalu semuanya hilang seperti debu. |
| Seka Nabila | 9E | 25 | Musim kemarau tiba. Ketika si bayi berusia empat puluh hari, Bapa Ola mengajak istri dan putranya ke kebun mereka. Perkiraannya tanaman berupa ubi, jagung dan ketela pohon sudah bisa dipanen dan dapat dibawa ke Boto. Mereka kembali menyusuri hutan yang ada di tepi dusun, perjalanan dengan menerabas hutan lebat yang gelap terus dilakukan hingga memasuki Desa Labalimut. Mama Nika terseok-seok mengikuti langkah suaminya. Semangatnya belum luruh. Ia selalu ingin membuat jagung bose kegemaran dia dan suaminya setiba di rumah bebak. Putra pertama mereka yang baru berusia empat puluh hari itu, berada di gendongan si ibu. Huma atau rumah bebak yang mereka tuju sayup-sayup mulai terlihat. Ada asap muncul dari kebun mereka. Asap itu seolah mengirim tanda ada sesuatu yang telah terjadi. Pasangan muda itu menyimpan tanya hingga tiba di rumah bebak mereka. ”Tanah ini bukan tanah kalian, tidak ada sertifikat resmi yang kalian miliki. Ini tanah milik perkebunan. Di sini akan dijadikan kebun kopi dan cengkeh, kami yang ditugaskan untuk melakukan penebangan,” ujar seorang lelaki bertubuh gempal dengan mimik wajah serius tanpa senyum dan belas kasihan. Bapa Ola dan istrinya menatap mereka dengan wajah yang sulit untuk dilukiskan, kesedihan dan air mata terlihat di wajah Mama Nika Dana. Lima ratus meter dekat kebun, ada hamparan tanah luas berupa lapangan, di sisinya terlihat sawah lodok lingko milik beberapa petani yang juga tinggal di Dusun Boto, sawah lodok lingko mereka sudah rata dengan tanah. Puluhan petani mengelilingi sawah mereka sambil duduk tepekur dengan wajah kosong. ”Ini tanah leluhur kami. Tanah ini sudah kami tanami beragam jenis tanaman, mereka menghidupi keluarga kami. Kami sudah menanaminya secara turun temurun,” ucap Bapa Ola dengan suara kering. Ia terlihat sangat putus asa. ”Mana bukti kepemilikan yang kalian punya?” tanya lelaki bertubuh gempal itu. Bapa Ola memandang istrinya sejenak. Tak ada bukti yang bisa mereka suguhkan. Selama puluhan tahun mereka menggarap tanah itu, mereka melakukannya dengan kepercayaan penuh pada leluhur bahwa tanah itu adalah warisan untuk mereka. Kini tanaman jagung, ubi dan ketela pohon, gugur tak berdaya. Tanaman itu ditebang dengan kekuatan penuh. Jagung-jagung itu sudah siap panen, juga ubi dan ketela. Pohon kehidupan itu luruh tak berdaya ke bumi. Bersama tangis yang masih tersisa, pasangan suami istri ini tak bisa berkata-kata lagi. Mereka kembali ke Boto dengan harapan yang hilang. Hutan lebat di hadapan kembali. |
| Seka Nabila | 9E | 25 | Musim kemarau tiba. Ketika si bayi berusia empat puluh hari, Bapa Ola mengajak istri dan putranya ke kebun mereka. Perkiraannya tanaman berupa ubi, jagung dan ketela pohon sudah bisa dipanen dan dapat dibawa ke Boto. Mereka kembali menyusuri hutan yang ada di tepi dusun, perjalanan dengan menerabas hutan lebat yang gelap terus dilakukan hingga memasuki Desa Labalimut. Mama Nika terseok-seok mengikuti langkah suaminya. Semangatnya belum luruh. Ia selalu ingin membuat jagung bose kegemaran dia dan suaminya setiba di rumah bebak. Putra pertama mereka yang baru berusia empat puluh hari itu, berada di gendongan si ibu. Huma atau rumah bebak yang mereka tuju sayup-sayup mulai terlihat. Ada asap muncul dari kebun mereka. Asap itu seolah mengirim tanda ada sesuatu yang telah terjadi. Pasangan muda itu menyimpan tanya hingga tiba di rumah bebak mereka. ”Tanah ini bukan tanah kalian, tidak ada sertifikat resmi yang kalian miliki. Ini tanah milik perkebunan. Di sini akan dijadikan kebun kopi dan cengkeh, kami yang ditugaskan untuk melakukan penebangan,” ujar seorang lelaki bertubuh gempal dengan mimik wajah serius tanpa senyum dan belas kasihan. Bapa Ola dan istrinya menatap mereka dengan wajah yang sulit untuk dilukiskan, kesedihan dan air mata terlihat di wajah Mama Nika Dana. Lima ratus meter dekat kebun, ada hamparan tanah luas berupa lapangan, di sisinya terlihat sawah lodok lingko milik beberapa petani yang juga tinggal di Dusun Boto, sawah lodok lingko mereka sudah rata dengan tanah. Puluhan petani mengelilingi sawah mereka sambil duduk tepekur dengan wajah kosong. ”Ini tanah leluhur kami. Tanah ini sudah kami tanami beragam jenis tanaman, mereka menghidupi keluarga kami. Kami sudah menanaminya secara turun temurun,” ucap Bapa Ola dengan suara kering. Ia terlihat sangat putus asa. ”Mana bukti kepemilikan yang kalian punya?” tanya lelaki bertubuh gempal itu. Bapa Ola memandang istrinya sejenak. Tak ada bukti yang bisa mereka suguhkan. Selama puluhan tahun mereka menggarap tanah itu, mereka melakukannya dengan kepercayaan penuh pada leluhur bahwa tanah itu adalah warisan untuk mereka. Kini tanaman jagung, ubi dan ketela pohon, gugur tak berdaya. Tanaman itu ditebang dengan kekuatan penuh. Jagung-jagung itu sudah siap panen, juga ubi dan ketela. Pohon kehidupan itu luruh tak berdaya ke bumi. |
| Seka Nabila | 9E | 25 | Musim kemarau tiba. Ketika si bayi berusia empat puluh hari, Bapa Ola mengajak istri dan putranya ke kebun mereka. Perkiraannya tanaman berupa ubi, jagung dan ketela pohon sudah bisa dipanen dan dapat dibawa ke Boto. Mereka kembali menyusuri hutan yang ada di tepi dusun, perjalanan dengan menerabas hutan lebat yang gelap terus dilakukan hingga memasuki Desa Labalimut. Mama Nika terseok-seok mengikuti langkah suaminya. Semangatnya belum luruh. Ia selalu ingin membuat jagung bose kegemaran dia dan suaminya setiba di rumah bebak. Putra pertama mereka yang baru berusia empat puluh hari itu, berada di gendongan si ibu. Huma atau rumah bebak yang mereka tuju sayup-sayup mulai terlihat. Ada asap muncul dari kebun mereka. Asap itu seolah mengirim tanda ada sesuatu yang telah terjadi. Pasangan muda itu menyimpan tanya hingga tiba di rumah bebak mereka. ”Tanah ini bukan tanah kalian, tidak ada sertifikat resmi yang kalian miliki. Ini tanah milik perkebunan. Di sini akan dijadikan kebun kopi dan cengkeh, kami yang ditugaskan untuk melakukan penebangan,” ujar seorang lelaki bertubuh gempal dengan mimik wajah serius tanpa senyum dan belas kasihan. Bapa Ola dan istrinya menatap mereka dengan wajah yang sulit untuk dilukiskan, kesedihan dan air mata terlihat di wajah Mama Nika Dana. Lima ratus meter dekat kebun, ada hamparan tanah luas berupa lapangan, di sisinya terlihat sawah lodok lingko milik beberapa petani yang juga tinggal di Dusun Boto, sawah lodok lingko mereka sudah rata dengan tanah. Puluhan petani mengelilingi sawah mereka sambil duduk tepekur dengan wajah kosong. ”Ini tanah leluhur kami. Tanah ini sudah kami tanami beragam jenis tanaman, mereka menghidupi keluarga kami. Kami sudah menanaminya secara turun temurun,” ucap Bapa Ola dengan suara kering. Ia terlihat sangat putus asa. ”Mana bukti kepemilikan yang kalian punya?” tanya lelaki bertubuh gempal itu. Bapa Ola memandang istrinya sejenak. Tak ada bukti yang bisa mereka suguhkan. Selama puluhan tahun mereka menggarap tanah itu, mereka melakukannya dengan kepercayaan penuh pada leluhur bahwa tanah itu adalah warisan untuk mereka. Kini tanaman jagung, ubi dan ketela pohon, gugur tak berdaya. Tanaman itu ditebang dengan kekuatan penuh. Jagung-jagung itu sudah siap panen, juga ubi dan ketela. Pohon kehidupan itu luruh tak berdaya ke bumi. |
| Zavier Arya Winata | 9E | 26 | Kebun itu bernama Basagoka, berada di dusun Boto, masuk ke dalam lingkungan Desa Labalimut, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Di Boto dan kebun Basagoka ada ingatan terpendam kuat tentang kisah masa lalu dari sepasang suami istri penggarap ladang dengan tanah warisan leluhur secara turun-temurun. |
| Avicena Akbar | 9F | 3 | Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. Ada-ada saja alasan ia absen mengaji. Terkadang ia pura-pura sakit. Pernah sekali ia bersembunyi di bawah tempat tidurnya, sampai ibunya mengira ia hilang, lain waktu ia pergi ke rumah neneknya dan tidak pulang semalaman, sampai ibunya harus menjemputnya pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Bapaknya sendiri sudah angkat tangan dengan kelakuan putrinya. Walaupun sudah di hukum beberapa kali, Laura tampaknya tidak memperlihatkan tanda-tanda akan jera. Bapak Laura akhirnya sudah tidak ambil pusing dengan tingkah anaknya, ia akan acuh tak acuh membiarkan Laura membolos begitu saja. Berbeda dengan ibunya, setiap hari ia melakukan berbagai cara agar anaknya mau kembali mengaji, sampai membuat Bapaknya jengah melihat kelakuan istrinya. Laura memang sedikit nakal akhir-akhir ini Bu, dulu ia murid panutan bagi teman- temannya karena ia anak yang baik. Lambat laun perangainya mulai diikuti anak-anak lainya. Teman-temannya mulai membuat ulah pula di sana sini bersamanya. Maka, terbentuklah geng begundal yang dipimpin Laura, yang selalu membuat naik darah Bu Haji. Suatu hari, ada huru hara di depan Surau. Beberapa anak-anak berkelahi sampai membuat kaca jendela pecah. Lalu Kiai dan Bu Haji memanggil semua para santri. Tidak ada yang mau mengaku siapa yang memecahkan kaca. Anak-anak bandel itu saling lempar kesalahan. Mungkin anak-anak ini belajar trik dari para elite berdasi dan pejabat tinggi, saling lempar kesalahan ke sana sini, merasa paling benar sendiri lalu cuci tangan. Atau mungkin para elite yang seperti anak kecil, Entahlah. Sungguh ia merasa putus asa membujuk anak perempuannya. Sebagai ibu, ia merasa gagal dibandingkan dengan ibu-ibu lain tetangganya. Walaupun latar belakang pendidikan mereka masih sangat minim, nyatanya mereka lebih berhasil membujuk anak-anak mereka yang membolos dari pada ia dan suaminya yang punya latar belakang pendidikannya yang baik. |
| Dwi Khalila Nibras Muthmainnah | 9F | 4 | Bolos
Suatu hari, ada huru-hara di depan Surau. Beberapa anak-anak berkelahi sampai membuat kaca jendela pecah. Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. Ada-ada saja alasan ia absen mengaji. Terkadang ia Bapaknya sendiri sudah angkat tangan dengan kelakuan putrinya. Walaupun sudah di hukum beberapa kali, Laura tampaknya tidak memperlihatkan tanda-tanda akan jera. Bapak Laura akhirnya sudah tidak ambil pusing dengan tingkah anaknya, ia akan acuh tak acuh membiarkan Laura membolos begitu saja. Namun, ia tetap ingin putrinya menjadi anak yang lebih baik darinya. Ia berharap Laura |
| Farash Selena Rustam | 9F | 6 | Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan.
Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!» tegur Rendi bercanda Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik. Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. |
| Ryu Ibrahim Faried | 9F | 22 | Laura bolos mengaji |
| Teuku Muhammad Rafsanjani | 9F | 25 | Suatu hari, ada huru-hara di depan Surau. Beberapa anak-anak berkelahi sampai membuat kaca jendela pecah. Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. Ada-ada saja alasan ia absen mengaji. Terkadang ia pura-pura sakit. Pernah sekali ia bersembunyi di bawah tempat tidurnya, sampai ibunya mengira ia hilang, lain waktu ia pergi ke rumah neneknya dan tidak pulang semalaman, sampai ibunya harus menjemputnya pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Bapaknya sendiri sudah angkat tangan dengan kelakuan putrinya. Walaupun sudah di hukum beberapa kali, Laura tampaknya tidak memperlihatkan tanda-tanda akan jera. Bapak Laura akhirnya sudah tidak ambil pusing dengan tingkah anaknya, ia akan acuh tak acuh membiarkan Laura membolos begitu saja. Berbeda dengan ibunya, setiap hari ia melakukan berbagai cara agar anaknya mau kembali mengaji, sampai membuat Bapaknya jengah melihat kelakuan istrinya.”Mau jadi apa anak kita kalau tidak punya pendidikan agama, Pak? Agama sebagai fondasi agar kelakuan anak kita nanti terarah. Percuma nanti anak kita sukses menjadi pejabat atau menjadi para elite kalau tidak punya pegangan agama, nanti dia akan berbuat semena-mena pada sesamanya.” ”Sekarang para pejabat dan para elite saja tidak peduli dengan agama, Bu.” ”Husss! Jangan bilang begitu Pak, nanti ada yang dengar.” Tambah istrinya. ”Memang begitu adanya, Bu. Sekarang banyak pejabat mencari uang dengan cara haram, contohnya saja korupsi di mana-mana, saling tuduh sana sini dan saling menghancurkan sesamanya demi kepentingan pribadi dan banyak lagi. Jika memang benar, agama adalah dasar moralitas manusia, tentu mereka tidak melakukannya. Tampaknya pelajaran agama sudah tidak berfungsi lagi untuk zaman sekarang, Bu.” ”Astagfirullah Pak, jangan berbicara melantur begitu, kita ingin anak kita menjadi sukses, berguna, dan tetap menjadi anak salehah. Hati-hati dengan ucapanmu, Pak. Ucapan adalah doa.” Kalau sudah begitu, bapaknya hanya melengos, meninggalkan istrinya yang sedang berbicara panjang lebar. Makna agama bagi dirinya kini memang sangat kabur, kesehariannya sebagai perangkat Ia berharap Laura Laura memang sedikit nakal akhir-akhir ini Bu, dulu ia murid panutan bagi temantemannya karena ia anak yang baik. Sampai sekarang Laura satu-satunya anak yang tidak mau melangkahkan kakinya ke Sungguh ia merasa putus asa membujuk anak perempuannya. Sebagai ibu, ia merasa |
| Inara Alisha Kusumapatra | 9G | 12 | Aku (tokoh cerita) memutuskan untuk pergi berwisata dengan teman-temannya dengan menggunakan kereta. ningsih datang telat ke stasiun. dia memang biasanya sering telat. mereka masuk ke gerbong kereta. mereka menikmati bekal yang diberikan ibunya ningsih. kereta tiba-tiba berhenti dan lampu mulai mati satu persatu. aku mengalihkan pandangannya ke ningsih. lengannya basah dan dingin. lalu lengannya menjadi semakin dingin seperti membeku. keadaan ningsih sekarang matanya menghitam, terlihat retak-retak bekas luka bakar. aku berusaha melepaskan tangan ningsih. namun ia tak berhasil. kepala ningsih menengok dengan kaku, dan terdengar bunyi tulang patah di dalamnya. aku tak berani membuka mata dan ia merapatkan tubuhnya dengan rendi. terdengar suara langkah kaki yang berjalan cepat ke arah mereka, diikuti kabut dan udara dingin. lalu semuanya menghilang seperti debu, tersisa mereka yang merunduk ketakutan di rel kereta yang bergetar. |
| Kayla Devina Helmi Putri | 9G | 14 | Ningsih dan teman-temannya pergi berlibur ke Bandung dengan menggunakan kereta api. Namun saat mereka berlibur ada kecelakaan yang menimpa mereka. DImana kereta mereka berhenti mendadak sehingga semua penumpang jatuh dan kecelakaan. Dan yang terlihat disana hanya debu, semua orang menghilang akibat kecelakaan tersebut. |
| Kinaura Anavatri Virgana | 9G | 15 | Debu menceritakan sebuah 3 orang sahabat yang ingin pergi ke Bandung, mereka berangkat menggunakan kereta, tetapi belum lama kereta itu berjalan terjadi kejadian mistis yang membuat mereka bertiga ketakutan dan kebingungan, setelah beberapa saat semua hal yang terjadi hilang seperti debu dan disisakan dengan 3 orang sahabat tersebut masih ketakutan. |
| Muhammad Rizky Pasya Arifin | 9G | 20 | Bolos merupakan hal yg merugikan bagi kita karna dapat menghambat pengetahuan yg harusnya kita tahu pada usia pertumbuhan. |
